Jual Sparepart Genset Perkins di Ogan Komering Ulu Timur Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Perkins di Ogan Komering Ulu Timur Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Perkins di Ogan Komering Ulu Timur

Jual Sparepart Genset Perkins di Ogan Komering Ulu Timur

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Perkins di Ogan Komering Ulu Timur | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual Sparepart genset perkins CHINA/LOVOL Kap 135 kva Prime power type 1006TAG1A di Bulukumba

Jual Sparepart genset perkins CHINA/LOVOL Kap 135 kva Prime power type 1006TAG1A di Bulukumba Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual Sparepart genset perkins CHINA/LOVOL Kap 135 kva Prime power type 1006TAG1A di Bulukumba

saco-indonesia.com, Apron atau tempat parkir pesawat Bandara Ahmad Yani, Semarang amblas. Akibatnya, jadwal Lion Air dengan jeni

saco-indonesia.com, Apron atau tempat parkir pesawat Bandara Ahmad Yani, Semarang amblas. Akibatnya, jadwal Lion Air dengan jenis pesawat 737 900ER ke Jakarta telah mengalami penundaan selama tiga jam.

Awalnya penerbangan Lion Air tersebut telah dijadwalkan akan take off sekitar pukul 10.00 pagi WIB. Namun saat menuju ke landasan pacu, roda pesawat telah terjerembab ke apron amblas tersebut yang telah mengakibatkan pesawat tak mampu bergerak karena penumpang penuh. Terpaksa sebagian penumpang harus diturunkan terlebih dahulu agar beban pesawat berkurang.

Sekitar pukul 12.30 siang WIB, akhirnya pesawat tersebut telah lepas landas. Pesawat komersil yang berada di dekat lokasi amblas pun akhirnya telah dipindahkan ke parkiran pesawat kecil.

"Posisinya di apron sebelah barat. Kebetulan hanya pesawat Lion Air 737 900ER ke Jakarta, penumpang juga kebetulan full setelah diturunkan kembali ditarik ternyata tidak cukup kuat peralatan GSE-nya tadi. Kemudian kita packing kembali pesawat bisa jalan," ujar General Affair and Communication Section Head PT Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani, Anom Fitranggono di Semarang, Rabu (9/1).

Anon juga mengatakan, apron itu tak amblas namun hanya bergelombang. Dia juga memperkirakan, loading terlalu berat yang telah mengakibatkan alat bantu tak kuat untuk menarik pesawat.

"Sebetulnya (amblasnya) tidak terlalu besar, kecil sekitar nol koma sekian, cuman bergelombang. Mungkin loading pesawat cukup berat dan cukup besar efeknya peralatan push back tidak kuat. Tidak sampai ambles berbentuk kubangan atau gelombang yang cukup signifikan, itu tidak," tutur Anom.

Menurut Anom, pihaknya juga belum dapat mengetahui penyebab amblasnya apron tersebut. Dia juga menegaskan pihaknya akan overlay kembali supaya landasan bisa tertata rapi. "Untuk teknis kami belum tahu penyebabnya, kami tidak bisa berandai-andai karena teknis sekali. Namanya landasan dipakai jangan apron atau runway, jalan umum pun yang digunakan bisa terjadi. Untuk pesawat efeknya agak sensitif terhadap pesawat," jelas dia.


Editor : Dian Sukmawati

REPUBLIKA.CO.ID, Museum Media Madinah menyimpan sejumlah maket sejarah Nabi Muhammad SAW. Museum ini pun dapat membuat pengunjun

REPUBLIKA.CO.ID, Museum Media Madinah menyimpan sejumlah maket sejarah Nabi Muhammad SAW. Museum ini pun dapat membuat pengunjung membayangkan bagaimana sejarah saat Rasulullah berdakwah.

Antara yang mengunjungi museum, Sabtu, melihat sejumlah maket ditampilkan seperti tiga maket Masjid Nabawi dari bentuk awal, perubahan bentuk saat ada perintah mengubah kiblat, dan bentuk perluasan masjid pada masa Rasulullah.

Maket situasi perang juga ditampilkan seperti Perang Uhud dan Perang Khandaq. Dibandingkan dengan masa Nabi, situasi di bukit Uhud sudah banyak berubah. Pun parit yang digali saat Perang Khandaq sudah tidak ada. Melihat maket itu pun dapat membuat pikiran melayang ke masa itu.

Pengunjung juga diajak untuk menyaksikan tayangan film pembangunan Masjid Nabawi pada jaman Rasulullah yang dinarasikan Muhamad Muslim bin Hasan Bisri asal Cirebon, Jawa Barat.

Ia menjelaskan, awalnya di mesjid seluas 30 x 35 meter itu hanya sebagian yang diberi atap pelepah kurma yaitu pada seperempat bagian belakang mesjid yang disebut sufa.

Sufa adalah tempat musafir dan anak yatim berteduh. Saat malam hari, biasanya Rasulullah mengajak mereka makan malam bersama di rumahnya yang terletak di sebelah kiri depan masjid.

Pada bulan-16 setelah hijrah, masjid sederhana itu mengubah arah kiblatnya dari Masjidil Aqsha ke Ka,bah di Makkah sehingga ada perubahan pintu dan bagian depan.

Kemudian pada tahun ke-6 Hijriah, bagian depan mesjid diberi atap dari tanah liat dengan tinggi sekitar tiga meter karena untuk mencegah air hujan masuk.

Setahun kemudian, setelah Perang Khaibar, masjid diperluas karena jumlah umat Islam sudah semakin banyak. Masjid diperluas di bagian utara dan barat sehingga ukurannya menjadi 50 x 45 meter.

Di museum juga terdapat sejumlah peralatan penyiaran jaman dulu seperti kamera dan proyektor sehingga ada nama media yang menempel pada kata museum. Benda lain yang ditampilkan yakni maket sejumlah masjid bersejarah, sejumlah batu dari berbagai daerah di Madinah, maket Raudhah dan makam nabi, serta tiruan baju perang saat masa Rasulullah.

Sayangnya masih banyak maket yang tidak tampil mungkin karena keterbatasan areal museum seperti Perang Badar, Gua Hira, dan kondisi pemukiman Madinah sejak awal hijrah sampai meninggalnya Rasulullah.

Ruang museum juga sebagian sudah menjadi toko cenderamata yang menjual video kisah perjuangan Islam, Alquran mini, hiasan dinding, hiasan kaca, dan kurma Madinah.

Jamaah haji Indonesia gelombang dua yang akan berkunjung ke Madinah untuk beribadah shalat arbain, bisa memanfaatkan waktu luang mengunjungi museum yang hanya berjarak 1,5 kilometer sebelah timur Mesjid Nabawi. Tiket masuk saat musim haji didiskon 50 persen menjadi hanya 5 riyal atau sekitar Rp15.500 per orang.

Sumber : http://www.gemashafamarwa.com

Baca Artikel Lainnya : INVESTASI KANAN, UMRAH

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Hired in 1968, a year before their first season, Mr. Fanning spent 25 years with the team, managing them to their only playoff appearance in Canada.

Artikel lainnya »