Sparpart genset murah genset perkins genset foton genset cummins murah genset lovol 100 kva harga
JUAL GENSET LOVOL MURAH DI JAKARTA

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Sumedang Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Sumedang Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Sumedang

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Sumedang

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Sumedang | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual genset Isuzu Foton 40 kVA silent di Mamuju

Jual genset Isuzu Foton 40 kVA silent di Mamuju Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual genset Isuzu Foton 40 kVA silent di Mamuju

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dinilai inkonsisten dalam menyikapi kebijakan pemerintah.

JAKARTA, Saco-Indonesia.com — Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dinilai inkonsisten dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Sebagai partai koalisi, PKS diminta tidak merongrong pemerintah hanya untuk menarik simpati masyarakat.

"Koalisi itu kan dengan niat baik, kesamaan visi, bukan sebaliknya merongrong pemerintah di saat rakyat memerlukan bantuan," kata Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf seusai menghadiri rapat Sekretariat Gabungan (Setgab) di rumah dinas Wakil Presiden Boediono, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (4/6/2013) malam. Dalam rapat tersebut, hanya pimpinan PKS yang tak hadir di antara semua partai dalam koalisi pendukung pemerintah.

Sekretaris Fraksi PKS di DPR Abdul Hakim mengatakan, ketidakhadiran pimpinan PKS dalam rapat tersebut semata karena alasan teknis. Pada saat rapat digelar, Presiden PKS Anis Matta sedang ada kegiatan di Jombang, Jawa Timur. Terlebih lagi, ujar dia, semula undangan rapat ditujukan pada pimpinan fraksi, tetapi kemudian dibatalkan sehingga, imbuh dia, pimpinan fraksi yang wonsemula akan menghadiri pertemuan juga membatalkan kehadirannya.

Agenda pertemuan Setgab ini adalah membahas rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), pemberian bantuan langsung sementara miskin (BLSM) sebagai kompensasi, dan konsolidasi koalisi. Rapat ini digelar sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menyikapi ketidakhadiran PKS dalam rapat, Nurhayati mengatakan sudah kebal dengan polah partai itu. Dia pun mengecam langkah PKS yang pada satu sisi menyatakan menolak kenaikan harga BBM dengan alasan membela rakyat, tetapi di sisi lain tetap bergabung di gerbong partai koalisi pendukung pemerintah.

Nurhayati enggan menghakimi atau mengusulkan agar PKS hengkang dari koalisi. Sebagai partai cerdas, PKS dianggapnya mampu bersikap lebih konsisten, termasuk menentukan keputusan bersama partai koalisi. "Tidak perlu diusulkan (untuk keluar koalisi). Kalau sudah tidak bisa bersama, apa harus dipertahankan?" ujar dia.

 
Editor :Liwon Maulana(galipat)

saco-indonesia.com, Kebaya bisa jadi busana tradisi Indonesia berikutnya yang akan mencuri perhatian publik di tingkat internasional, setelah batik dan tenun.

Saco-Indonesia.com - Kebaya bisa jadi busana tradisi Indonesia berikutnya yang akan mencuri perhatian publik di tingkat internasional, setelah batik dan tenun. Anggota keluarga kerajaan Jerman salah satu yang mulai tertarik dengan kebaya Indonesia.


Hal itu disampaikan Nia Niscaya, Direktur Promosi Pariwisata Internasional, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, saat ditemui di House of Ferry Sunarto, di Senopati, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013) lalu. Seperti diberitakan sebelumnya, desainer Ferry Sunarto diundang untuk memamerkan sejumlah koleksi kebayanya di Jerman, dalam perayaan Landpartie Schloss Buckeburg pada 30 Mei-2 Juni 2013.

"Kalau festival tahunan di Jerman ini digelar, mereka meminta adanya peragaan busana kebaya, karena mereka sudah tahu kalau kebaya sangat khas Indonesia," ujar Nia.

Dari sejumlah perancang kebaya Indonesia yang ada, pilihan Kemenparekraf lalu jatuh ke Ferry Sunarto. Menurut Nia, Ferry adalah desainer muda berbakat dengan produk kebaya yang glamor dan sesuai dengan selera asing.

"Kebaya Ferry punya sense internasional, dan memang sangat menarik, karena detailnya mewah sekali," ungkap dia menambahkan.

Selain diperagakan selama pameran di Istana Buckeburg, Jerman, koleksi kebaya itu juga akan dipakai Princess Nadja Anna Zsoek dan diperagakan di cocktail reception yang dihadiri tamu VIP kerajaan.

"Akan ada pemotretan oleh majalah mode di  Jerman sebanyak delapan halaman, dan modelnya Princess Nadja," kata Nia.

Keikutsertaan koleksi Ferry di Istana Buckerburg dan di hadapan komunitas kerajaan menjadi yang pertama buat Indonesia. Jika pameran ini sukses, ada kemungkinan kebaya akan menjadi perbincangan dan dicari.

Saat berkunjung ke butiknya di Senopati, Ferry menunjukkan beberapa koleksinya yang akan diperagakan di Jerman. Di antaranya didominasi warna pastel yang lembut dan sentuhan gaya yang sangat modern.

Pakem kebaya sendiri masih terlihat dari bahan yang digunakan, seperti renda, payet, dan manik-manik. Selain itu masih ditemukan kerutan khas kebaya di bagian dada, serta bustier yang menempel pas badan.

Untuk gaya internasionalnya, terlihat dari siluetnya yang seksi, bahan transparan di beberapa bagian, ornamen di leher dan pundak, serta potongan gaun yang mengembang. Jika dilihat dari dekat, kebaya-kebaya ini berkesan mewah karena semua detail dikerjakan dengan tangan.

"Sudah saatnya budaya dapat beradaptasi dengan perubahan zaman. Kebaya bisa jadi busana yang modern sehingga satu hari nanti bukan hanya dimiliki bangsa Indonesia saja, tapi juga jadi inspirasi dunia," ujar Ferry.

 

Editor :Liwon Maulana(galipat)
Sumber:Kompas.com

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Ms. Rendell was a prolific writer of intricately plotted mystery novels that combined psychological insight, social conscience and teeth-chattering terror.

Artikel lainnya »