jual ECM perkins agen ECM perkins distributor ECM perkins toko ECM perkins seting ECM perkins

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Maros Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Maros Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Maros

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Maros

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Maros | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual GENSET CUMMIS 1500KVA di Wakatobi

Jual GENSET CUMMIS 1500KVA di Wakatobi Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual GENSET CUMMIS 1500KVA di Wakatobi

Satuan reserse unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok, telah berhasil menangkap FR yang berusia 17 tahun , at

Satuan reserse unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok, telah berhasil menangkap FR yang berusia 17 tahun , atas dugaan menganiaya mantan kekasihnya, MUM yang berusia 16 tahun , karena tidak mau diputus hubungan. Keduanya juga merupakan pelajar di salah satu sekolah yang sama di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kisah tragis yang telah dialami oleh korban, terungkap setelah menceritakan segala perbuatan mantan kekasihnya tersebut ke keluarganya. Berdasarkan dari keterangan dari adik korban, Salwa, kakaknya tersebut telah mengalami luka memar disekujur tubuh akibat dari perlakuan penganiayaan oleh FR. Keduanya juga pernah menjalin kasih asmara, namun tidak bertahan lama, lantaran sikap FR yang suka melakukan kekerasan terhadap kakaknya. “Motif pelaku memukul kakaknya diduga karena motif jalinan asmara,”ujarnya. Akibatnya, lanjut Salwa, warga Pancoranmas itu luka memar di tangan dan kaki. Selain itu berdasarkan informasi dari teman sekolah korban, kakaknya tersebut juga pernah diancam dengan menggunakan pisau kater pemotong kertas. “Kakak saya acapkali menerima pukulan,” jelasnya. Luka fisik yang harus diterima remaja tersebut, juga telah membuat kakaknya mengalami gangguan mental. Hal itu telah terlihat dengan merosotnya nilai di sekolah. “Belakang hari ini, nilai kakak merosot dratis. Dikhawatirkan ada kaitannya dari dampak penyiksaan dan ancaman pelaku,”ungkapnya. Wakapolresta Depok, AKBP Irwan Anwar juga mengatakan membenarkan ada penangkapan pelaku akibat kekerasan yang telah dilakukan pelaku ke korban. “Anggota penyidik masih mendalami kasusnya, dan mencari motif sesungguhnya dibalik aksi pelaku,”ungkapnya. Kasusnya, ujar Irwan, sedang ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Depok. “Kami juga masih perlu memeriksa lagi. Sementara ini, kasusnya terus dikembangkan,” tandas Irwan. Kasus yang telah dialami FR dengan MUM mirip dengan kisah badai asmara antara yang menimpa Ade Sara Angelina Suroto,18, mahasiswi Bunda Mulya yang tewas dihabisi mantan pacarnya sendiri, Ahmad Imam Al Hafitd, 19, bersama kekasihnya, Assyifa Ramadani, 18. Bedanya dalam kasus ini, korban tidak sampai tewas.

saco-indonesia.com, Tips Memilih Perlengkapan Bayi Menyambut detik-detik kelahiran sang buah hati juga merupakan momen yang

saco-indonesia.com,

Tips Memilih Perlengkapan Bayi
Menyambut detik-detik kelahiran sang buah hati juga merupakan momen yang sangat menggembirakan bagi orang tua, khususnya ibu yang akan melahirkan anak pertamanya. Beragam persiapan harus perlu dilakukan. Salah satunya adalah telah memilih perlengkapan bayi.

Berikut ini adalah tips untuk dapat memilih perlengkapan bayi dan kegunaannya:
1. Baju bayi
Pilihlah baju bayi yang telah berbahan katun karena selain lembut, katun juga mampu untuk dapat menyerap keringat dengan baik. Perlu juga menyediakan baju bayi dengan jumlah yang cukup (sesuai kebutuhan) karena baju bayi juga harus sering diganti untuk dapat menjaga kesehatan kulit bayi. Bayi baru lahir biasanya akan sering buang air kecil ataupun pup. Jadi baju bayi maupun popok yang dipakai sering kali basah atau kotor terkena air kencing bayi. Dalam hal membeli baju bayi tidak perlu yang mahal, yang terpenting adalah bayi nyaman memakainya dan telah terbuat dari bahan yang aman dan tidak berbahaya.

2. Sarung tangan bayi
Sarung tangan dan sarung kaki bayi diperlukan untuk dapat menjaga agar bayi tidak kedinginan. Selain itu juga menjaga agar kuku tangan bayi yang sudah panjang tidak melukai tubuh bayi. Disarankan dalam memilih sarung tangan bayi adalah sarung tangan bayi yang berbahan lembut dan tidak ketat untuk dapat menjaga kuku dan jari bayi.

3. Gendongan bayi
Menggendong bayi bisa dilakukan saat bayi sudah berusia beberapa bulan atau bayi sudah bisa menahan kepalanya sendiri. Aktifitas menggendong bayi juga akan sering dialami pada semua orang tua yang telah memiliki bayi. Jadi dalam menggendong bayi diperukan gendongan bayi yang berkualitas dan nyaman dipakai. Pilihlah gendongan bayi yang tidak membuat penggendong merasa nyeri dan memiliki bahan kain yang mampu menyerap panas bayi dan telah memiliki sirkulasi yang baik.

4. Perlak bayi
Perlak dapat digunakan sebagai lapisan tidur bayi sehingga kasur tidak akan basah atau kotor.

5. Kelambu/ kojong bayi
Pilihlah kelambu yang lebih panjang dari tempat tidur bayi dan usahakan kelambu selalu terpasang. Selain dapat melindungi dari nyamuk dan serangga lain, kelambu juga dapat ikut menjaga bayi untuk tidak kedinginan.

6. Popok
Popok bayi adalah perlengkapan yang wajib dimiliki pada setiap orang tua yang baru melahirkan bayi. Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam hal memilih popok bayi adalah bahannya yang aman, kepraktisan dalam pemakaian, dan daya serap popok. Pemilihan popok yang baik akan dapat mengurangi resiko ruam kulit pada bayi. Bunda juga bisa memilih popok kain untuk si bayi. Popok kain murah banyak dijual di toko bayi baik offline maupun online.

Demikian beberapa tips sederhana memilih perlengkapan bayi. Semoga bermanfaat


Editor : Dian Sukmawati

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Mr. Haroche was a founder of Liberty Travel, which grew from a two-man operation to the largest leisure travel operation in the United States.

Artikel lainnya »