jual ECM perkins agen ECM perkins distributor ECM perkins toko ECM perkins seting ECM perkins

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Lampung Barat Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Lampung Barat Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Lampung Barat

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Lampung Barat

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Lampung Barat | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva Murah di Banyuwangi

Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva Murah di Banyuwangi Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva Murah di Banyuwangi

saco-indonesia.com, Ramuan Tradisional » Sariawan » Obat Sariawan Tradisional yang Ampuh dan Alami Obat Sariawan Tr

saco-indonesia.com, Ramuan Tradisional » Sariawan » Obat Sariawan Tradisional yang Ampuh dan Alami
Obat Sariawan Tradisional Ampuh dan Alami
Sariawan
Apa itu sariawan? Dalam ilmu kedokteran, sariawan lebih dikenal dengan nama Stomatitis, yaitu terjadinya pembengkakan atau peradangan yang telah terjadi di daerah sekitar mulut dan lidah. Sariawan juga memang bukan penyakit yang mematikan seperti kanker atau jantung. Tapi rasanya sangat menyiksa karena terasa perih saat mengunyah makanan yang telah mengakibatkan penderitanya menjadi tidak enak makan, bahkan makanan favoritnya sekalipun.

Sariawan juga tidak terjadi secara kebetulan, namun ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit ini.

    Mulut tergigit. Ini adalah hal yang umum. Biasanya mulut tergigit karena makan terlalu cepat atau pada saat mengobrol.
    Kekurangan nutrisi seperti zat besi, Vitamin B 12 dan Vitamin C juga bisa menyebabkan sariawan.
    Tanda dari kelainan pencernaan
    Kebersihan mulut yang tidak terjaga
    Daya tahan tubuh melemah
    Produk pasta gigi yang tidak cocok dengan mulut
    Makan makanan yang terlalu pedas atau asam


Sariawan juga bisa diobati dengan ramuan tradisional ataupun dengan membeli obat-obatan kimia di apotek. Anda tinggal memilih mana yang menurut Anda lebih mudah dan manjur.

Obat Sariawan Tradisional

Untuk dapat mengobati sariawan, kita juga bisa menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

1. Air kelapa

Air kelapa telah memberikan efek yang menenangkan pada sistem pencernaan. Air kelapa juga dikenal karena sifat pendinginannya. Selain menghidrasi tubuh dan ini juga baik untuk dapat menyembuhkan sariawan.

2. Daun jambu biji

Ini adalah salah satu pengobatan rumah yang dapat membantu untuk mengobati sariawan secara alami. Kunyah beberapa lembar daun jambu biji lalu berkumurlah.

3. Pisang dan madu

Makan pisang dan madu untuk dapat menyembuhkan sariawan. Anda bahkan juga dapat menerapkan pasta ini pada ulkus untuk dapat mengurangi peradangannya.

4. Bawang putih dan pepaya

Mengoleskan obat langsung pada luka sariawan untuk dapat mempercepat proses penyembuhan. Tempelkan bawang mentah, pepaya atau kantong teh langsung pada luka sariawan.

5. Minyak kelapa

Minyak kelapa telah memiliki sifat anti-bakteri. Anda juga bisa mencampurkan minyak kelapa dengan madu. Oleskan ramuan tersebut pada mulut yang sariawan tiga kali sehari.

6. Tomat

Buah-buahan yang mengandung vitamin C seperti tomat mampu untuk menyembuhkan sariawan. Konsumsi tomat mentah atau jus tomat karena kandungan vitamin C di dalamnya tinggi.

7. Kunyit

Jangan dikira kunyit hanya berfungsi sebagai bumbu masak saja . Kunyit juga mampu untuk mengobati sariawan. Ambil kunyit secukupnya, cuci bersih kemudian ditumbuk hingga halus. Oleskan pasta yang terbuat dari tumbukan kunyit yang telah dicampur dengan satu sendok teh gliserin.

Cara Mengobati Sariawan Lainnya

Selain mengobati sariawan dengan ramuan tradisional, kita juga bisa mengatasinya dengan beberapa makanan dan minuman seperti berikut:

8. Garam dan baking soda

Ini adalah salah satu solusi untuk dapat mengobati sariawan dengan mudah. Buatlah pasta dari garam dan baking soda dengan cara menambahkan sedikit air. Oleskan pasta pada ulkus (luka sariawan) dan biarkan selama 10 menit. Bilas dengan air dingin.

9. Makanan kaya zat besi

Makanan kaya zat besi seperti sereal, kalkun, ham, biji wijen, brokoli, gandum dan telur juga dapat mengurangi sariawan serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

10. Minum vitamin

Perbanyak konsumsi vitamin B, vitamin C, zat besi dan asam folat yang juga berperan dalam mencegah dan menyembuhkan luka sariawan.

11. Minum yogurt

Yogurt juga mengontrol keseimbangan bakteri di mulut dan tubuh. Dengan ini, Anda juga bisa meningkatkan kecepatan penyembuhan dan membantu mencegah luka sariawan.

Nah, itulah ramuan tradisional untuk dapat mengobati sariawan. Jika sariawan tidak kunjung sembuh dalam waktu tiga minggu, segera hubungi Dokter.

Editor : Dian Sukmawati

Sumber : Manfaatnyasehat.blogspot.com

saco-indonesia.com, Ratusan penduduk Kabupaten Kebumen Jawa Tengah terpaksa harus mengungsi karena banjir dan longsor yang telah

saco-indonesia.com, Ratusan penduduk Kabupaten Kebumen Jawa Tengah terpaksa harus mengungsi karena banjir dan longsor yang telah melanda di sejumlah wilayah. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Kebumen telah menyatakan wilayahnya dalam masa tanggap darurat selama tiga minggu.

"Saat ini masa tanggap darurat telah diperpanjang dari dua minggu sampai tiga minggu, terhitung dari tanggal 19 Desember kemarin," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen, Budi Satrio, Senin (23/12).

Dari data yang telah tercatat di BPBD Kebumen, saat ini ada sekitar 660 warga yang masih tinggal di tempat pengungsian. Para penduduk juga masih bertahan di tempat pengungsi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang melanda daerah tersebut sejak sepekan terakhir. Dia juga mengungkapkan, ketinggian banjir sudah mencapai lebih dari satu meter.

Bahkan, Budi juga menambahkan, hingga Senin siang (23/12) ada sekitar 150 penduduk Dukuh Bulusari Desa Madurejo Kecamatan Puring yang masih terisolir karena jalan terendam air cukup tinggi. Akses menuju desa tersebut hanya bisa dilalui dengan menggunakan dengan perahu karet.

"Kami juga masih membujuk warga yang masih bertahan agar mau dievakuasi. Karena kami khawatir hujan masih turun dan dapat menyebabkan banjir semakin besar," jelasnya.

Budi juga melanjutkan, sebagian besar penduduk setempat enggan dievakuasi lantaran takut kehilangan harta benda. Namun, BPBD Kebumen juga sudah menyiapkan tiga perahu karet untuk dapat melakukan evakuasi jika dibutuhkan sewaktu-waktu.

Budi juga mengemukakan daerah yang paling parah dilanda banjir berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Adimulyo, Kecamatan Puring dan Kecamatan Bonorowo. Hingga saat ini, korban jiwa akibat bencana di Kebumen sudah mencapai 4 orang tewas, 1 luka berat dan 3 luka ringan.

Sementara itu dari Banjarnegara Jawa Tengah telah dilaporkan tanah longsor terjadi di 43 titik tersebar di 25 desa dari 12 kecamatan di Banjarnegara. "Satu orang tewas dan kerusakan rumah meliputi 18 rusak berat, 9 rusak sedang, 52 rusak ringan. Saat ini ada 62 rumah terancam longsor dan jumlah pengungsi sekitar 10 kepala keluarga," kata Staf BPBD Banjarnegara, Andri Sulistiyo.


Editor : Dian Sukmawati

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

The 2015 Met Gala has only officially begun, but there's a clear leader in the race for best couple, no small feat at an event that threatens to sap Hollywood of every celebrity it has for the duration of an East Coast evening.

That would be Marc Jacobs and his surprise guest (who, by some miracle, remained under wraps until their red carpet debut), Cher.

“This has been a dream of mine for a very, very long time,” Mr. Jacobs said.

It is Cher's first appearance at the Met Gala since 1997, when she arrived on the arm of Donatella Versace.

– MATTHEW SCHNEIER

Artikel lainnya »