JUAL GENSET LOVOL MURAH DI JAKARTA

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Kepulauan Riau Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Kepulauan Riau Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Kepulauan Riau

Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Kepulauan Riau

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Perkins Murah di Kepulauan Riau | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual Sparepart genset perkins CHINA/LOVOL Kap 150 kva Prime power type 1106C-P6TAG3 di Balikpapan

Jual Sparepart genset perkins CHINA/LOVOL Kap 150 kva Prime power type 1106C-P6TAG3 di Balikpapan Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual Sparepart genset perkins CHINA/LOVOL Kap 150 kva Prime power type 1106C-P6TAG3 di Balikpapan

Saco-Indonesia.com - Penyakit Influenza adalah infeksi pada sistem pernapasan atas yang bisa menyebabkan berbagai gejala mulai dari batuk kering, sakit tenggorokan, mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan.

Saco-Indonesia.com - Penyakit Influenza adalah infeksi pada sistem pernapasan atas yang bisa menyebabkan berbagai gejala mulai dari batuk kering, sakit tenggorokan, mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan.

Penyakit influenza sangat mudah menular karena sel virusnya ada di udara. Meski istirahat dan cukup cairan adalah terapi terbaik untuk penyakit ini, pencegahan tetap yang terbaik. Melatih kekebalan tubuh akan membantu tubuh melawan virus influenza.

Langkah 1: Tambahkan potongan bawang putih segar ke dalam sup. Penelitian mengungkapkan bawang putih akan meningkatkan sistem imun, selain itu kandungan allicin dalam bawang putih mengandung komponen antivirus.

Langkah 2: Konsumsi makanan yang kaya vitamin C, seperti kiwi, stroberi, orange, nenas, atau grapefruit. Vitamin C akan meningkatkan fungsi sistem imun dan melindungi tubuh dalam melawan infeksi. Vitamin ini juga memberi perlindungan dari kerusakan radikal bebas.

Langkah 3: Bila Anda rutin mengonsumsi suplemen, cobalah pilih yang mengandung ginkgo biloba. Herbal yang berasal dari Cina ini diketahui meningkatkan sirkulasi tubuh. Sirkulasi yang lancar akan membantu pengantaran vitamin dan mineral yang diperlukan.

Langkah 4: Lindungi tubuh dari serangan virus dengan mengonsumsi tiram. Kandungan mineral zinc dalam makanan laut yang identik dengan afrodisiak ini juga memiliki efek antivirus.

Langkah 5: Selalu ingat nasihat ibu untuk rajin makan sayuran. Salah satu sayuran yang direkomendasikan untuk meningkatkan kekebalan tubuh adalah bayam. Kandungan folatnya akan memicu produksi sel-sel baru dan memperbaiki DNA. Sayuran hijau ini juga kaya vitamin C, serat, dan antioksidan. Jangan masak bayam terlalu matang untuk mendapatkan manfaat optimal.

Editor : Maulana Lee

Sumber :LiveStrong/kompas.com

Dr. Irsyal Rusad. Sp.PD Spesialis Penyakit Dalam Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Anggota Persatuan Ahli Penyakit Dalam Infonesia ( PAPDI) dan Pengurus PAPDI Cabang Riau. Berminat dalam bidang Healthy Life, Healthy Aging, dan Diabetes Mellitus.

KOMPAS.com - Beberapa penyakit kronis yang diderita sekarang, seperti diabetes, hipertensi, stroke, jantung dan sebagainya berkaitan erat dengan apa yang kita masukkan ke dalam perut kita, atau apa yang kita makan. Sayangnya, ditengah-tengah kesibukan kehidupan modern sekarang ini, apa yang kita masukkan itu sering luput dari perhatian kita, maka tidak heran penyakit-penyakit itu menjadi pembunuh utama kita sekarang ini.

Beberapa tips di bawah ini mudah-mudahan dapat membantu Anda.

1. Makanlah hanya pada saat lapar

Makanlah saat Anda lapar bukan pada saat Anda sedih, bosan, stres, ada resepsi, undangan, atau hanya karena ada makanan yang gratis, makanan yang kelihatan menggugah selera. Bila Anda makan karena alasan ini, maka makanan yang Anda konsumsi biasanya cendrung tidak sehat, berlebihan, dan apa yang menjadi tujuan dari makan sendiri untuk memelihara tubuh, kenikmatan, kepuasan  memperoleh enerji yang cukup tidak akan tercapai, malah sebaliknya, penyakit yang akan Anda dapatkan. Tapi, bila Anda makan hanya waktu lapar nikmatnya makanan itu akan lebih Anda rasakan. Di samping itu, Anda tidak perlu makan berlebihan, sampai kekenyangan, agar Anda puas, merasa sudah cukup, tapi kalau Anda makan karena sedih, bosan, stres, lagi bersenang-senang, Anda memerlukan makanan yang lebih banyak.

2. Makanlah masakan dari dapur Anda sendiri

Mengkonsumsi makanan yang Anda beli di luar, dengan makanan yang Anda masak sendiri pasti tidak sama kualitas dan pengaruhnya. Makanan yang dari dapur Anda, Anda sendiri yang menentukan apa yang akan Anda masak, mau memasak daging, ikan, sayur, berapa banyaknya, apa bumbunya, berapa garamnya, dan bagaimana memasaknya. Apa yang Anda masak, apa bumbunya, berapa garam yang Anda masukkan, bagaimana memasaknya akan menentukan kualitas makanan yang akan Anda makan. Di samping itu, aktivitas di dapur yang Anda lakukan dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan membakar cadangan energi Anda. Bila anda makan di luar, yang menentukan sesuatumya adalah kokinya, tidak hanya cara mengolahnya, tetapi juga apa yang harus Anda makan. Sayangnya, dapur kita sekarang sudah jarang berasap.

3. Pilihlah piring yang lebih kecil

Apa, berapa, dan bagaimana makanan yang Anda taruh dalam piring Anda akan mempengaruhi selera makan Anda, rasa puas, kenyang, dan kesan yang Anda lihat melalui mata juga akan akan mempengarhui porsi makanan Anda. Piring yang lebih kecil yang Anda pilih memberi kesan bahwa makanan yang ditaruh di atasnya kelihatan menjadi lebih banyak. Ini dapat mencegah Anda makan lebih banyak juga

4. Makanlah lebih sedikit, tetapi lebih sering

Dalam keadaan serba sibuk sekarang ini, ada kecendrungan orang makan 1-2 kali saja sehari, tetapi dalam porsi yang besar. Banyak yang tidak sempat makan pagi, kompensasinya mereka makan siang dalam jumlah yang besar atau sebaliknya. Makan dengan pola ini ternyata tidak sehat, memberikan beban belebihan pada perut Anda dalam sekaligus, dengan bermacam keluhan seperti, perut tidak nyaman,  menyesak, mual, muntah, cegukan, dan pengolahan, penyerapan makanan tidak sempurna. Bahkan banyak laporan kejadian serangan jantung akibat pola makan seperti ini.

Di samping itu, makan  banyak sekaligus, apalagi Anda mengkonsumsi makanan yang indeks glikemiknya tinggi, makanan kurang mengandung serat, kadar gula darah Anda dapat naik mendadak, yang kemudian juga memacu pelepasan Insulin dalam jumlah besar. Pelepasan insulin dalam jumlah besar ini mengakibat gula darah turun cepat juga, sehingga menimbulkan gejala seperti letih, mood anda terganggu, mmengantuk dan Anda cendrung mencari makanan ringan yang manis-manis. Sebaliknya, makan lebih sedikit, tetapi lebih sering, disamping sehat untuk sistem pencernaan, juga dapat mempertahankan gula darah Anda lebih stabil. Karena itu kebiasaan ini  bisa mengurangi risiko ancaman diabetes. Jadi, biasakanlah makan dalam porsi lebih kecil tetapi frekwensi lebih sering. Ada ahli yang menganjurkan 4-5 kali dalam sehari lebih untuk Anda.

5. Makanlah dengan rileks, santai, dan pelan-pelan

Karena merasa waktu yang sempit, diburu target, banyak dari kita yang makan sekarang ini,  dibawah tekanan, dalam keadaan stres, saat menonton TV, di depan komputer, di atas meja kerjai, sedang berjalan, bahkan selagi membawa kendaraan. Bila Anda tidak fokus dengan makanan di depan Anda, disamping Anda tidak dapat menikmati makanan itu, sistem pencernaan anda juga akan terganngu. Anda juga cendrung makan dalam porsi berlebihan. Sebaiknya makanlah dalam  keadaan tenang, pelan-pelan. Makan dengan situasi begini memberi Anda kesempatan menikmati makanan lebih baik, mengunyah lebih lama dan sistem pencernaan kita juga berkerja lebih sempurna.

Makan terburu-buru, misalnya 1-2 piring sudah habis Anda santap dalam 10 menit, atau kurang, tetapi Anda masih belum merasa kenyang, puas,  ini disebabkan oleh refleks puas, kenyang yang sampai ke otak kita perlu waktu sekitar  20 menit setelah kita mulai makan. Jadi, kalau Anda makan terburu-buru Anda juga cendrung makan dalam jumlah yang lebih besar. Anda baru tahu bahwa Anda makan berlebihan beberapa saat setelah Anda berhenti makan.

Bila 5 kiat di atas dapat Anda jalani, Insya Allah di samping kemungkinan Anda menjadi penyandang beberapa penyakit kronis, diabetes, hipertensi, jantung, stroke dapat diperkecil, tubuh Anda juga akan lebih cantik dan sehat.

 

Even as a high school student, Dave Goldberg was urging female classmates to speak up. As a young dot-com executive, he had one girlfriend after another, but fell hard for a driven friend named Sheryl Sandberg, pining after her for years. After they wed, Mr. Goldberg pushed her to negotiate hard for high compensation and arranged his schedule so that he could be home with their children when she was traveling for work.

Mr. Goldberg, who died unexpectedly on Friday, was a genial, 47-year-old Silicon Valley entrepreneur who built his latest company, SurveyMonkey, from a modest enterprise to one recently valued by investors at $2 billion. But he was also perhaps the signature male feminist of his era: the first major chief executive in memory to spur his wife to become as successful in business as he was, and an essential figure in “Lean In,” Ms. Sandberg’s blockbuster guide to female achievement.

Over the weekend, even strangers were shocked at his death, both because of his relatively young age and because they knew of him as the living, breathing, car-pooling center of a new philosophy of two-career marriage.

“They were very much the role models for what this next generation wants to grapple with,” said Debora L. Spar, the president of Barnard College. In a 2011 commencement speech there, Ms. Sandberg told the graduates that whom they married would be their most important career decision.

In the play “The Heidi Chronicles,” revived on Broadway this spring, a male character who is the founder of a media company says that “I don’t want to come home to an A-plus,” explaining that his ambitions require him to marry an unthreatening helpmeet. Mr. Goldberg grew up to hold the opposite view, starting with his upbringing in progressive Minneapolis circles where “there was woman power in every aspect of our lives,” Jeffrey Dachis, a childhood friend, said in an interview.

The Goldberg parents read “The Feminine Mystique” together — in fact, Mr. Goldberg’s father introduced it to his wife, according to Ms. Sandberg’s book. In 1976, Paula Goldberg helped found a nonprofit to aid children with disabilities. Her husband, Mel, a law professor who taught at night, made the family breakfast at home.

Later, when Dave Goldberg was in high school and his prom date, Jill Chessen, stayed silent in a politics class, he chastised her afterward. He said, “You need to speak up,” Ms. Chessen recalled in an interview. “They need to hear your voice.”

Years later, when Karin Gilford, an early employee at Launch Media, Mr. Goldberg’s digital music company, became a mother, he knew exactly what to do. He kept giving her challenging assignments, she recalled, but also let her work from home one day a week. After Yahoo acquired Launch, Mr. Goldberg became known for distributing roses to all the women in the office on Valentine’s Day.

Ms. Sandberg, who often describes herself as bossy-in-a-good-way, enchanted him when they became friendly in the mid-1990s. He “was smitten with her,” Ms. Chessen remembered. Ms. Sandberg was dating someone else, but Mr. Goldberg still hung around, even helping her and her then-boyfriend move, recalled Bob Roback, a friend and co-founder of Launch. When they finally married in 2004, friends remember thinking how similar the two were, and that the qualities that might have made Ms. Sandberg intimidating to some men drew Mr. Goldberg to her even more.

Over the next decade, Mr. Goldberg and Ms. Sandberg pioneered new ways of capturing information online, had a son and then a daughter, became immensely wealthy, and hashed out their who-does-what-in-this-marriage issues. Mr. Goldberg’s commute from the Bay Area to Los Angeles became a strain, so he relocated, later joking that he “lost the coin flip” of where they would live. He paid the bills, she planned the birthday parties, and both often left their offices at 5:30 so they could eat dinner with their children before resuming work afterward.

Friends in Silicon Valley say they were careful to conduct their careers separately, politely refusing when outsiders would ask one about the other’s work: Ms. Sandberg’s role building Facebook into an information and advertising powerhouse, and Mr. Goldberg at SurveyMonkey, which made polling faster and cheaper. But privately, their work was intertwined. He often began statements to his team with the phrase “Well, Sheryl said” sharing her business advice. He counseled her, too, starting with her salary negotiations with Mark Zuckerberg.

“I wanted Mark to really feel he stretched to get Sheryl, because she was worth it,” Mr. Goldberg explained in a 2013 “60 Minutes” interview, his Minnesota accent and his smile intact as he offered a rare peek of the intersection of marriage and money at the top of corporate life.

 

 

While his wife grew increasingly outspoken about women’s advancement, Mr. Goldberg quietly advised the men in the office on family and partnership matters, an associate said. Six out of 16 members of SurveyMonkey’s management team are female, an almost unheard-of ratio among Silicon Valley “unicorns,” or companies valued at over $1 billion.

When Mellody Hobson, a friend and finance executive, wrote a chapter of “Lean In” about women of color for the college edition of the book, Mr. Goldberg gave her feedback on the draft, a clue to his deep involvement. He joked with Ms. Hobson that she was too long-winded, like Ms. Sandberg, but aside from that, he said he loved the chapter, she said in an interview.

By then, Mr. Goldberg was a figure of fascination who inspired a “where can I get one of those?” reaction among many of the women who had read the best seller “Lean In.” Some lamented that Ms. Sandberg’s advice hinged too much on marrying a Dave Goldberg, who was humble enough to plan around his wife, attentive enough to worry about which shoes his young daughter would wear, and rich enough to help pay for the help that made the family’s balancing act manageable.

Now that he is gone, and Ms. Sandberg goes from being half of a celebrated partnership to perhaps the business world’s most prominent single mother, the pages of “Lean In” carry a new sting of loss.

“We are never at 50-50 at any given moment — perfect equality is hard to define or sustain — but we allow the pendulum to swing back and forth between us,” she wrote in 2013, adding that they were looking forward to raising teenagers together.

“Fortunately, I have Dave to figure it out with me,” she wrote.

Mr. Haroche was a founder of Liberty Travel, which grew from a two-man operation to the largest leisure travel operation in the United States.

Artikel lainnya »