JUAL GENSET LOVOL MURAH DI JAKARTA

Tips memilih Lampu depan motor yang bagus Komponen headlamp pada sepeda motor, telah menjadi part yang paling penting dalam b

Tips memilih Lampu depan motor yang bagus

Komponen headlamp pada sepeda motor, telah menjadi part yang paling penting dalam berkendara.

Namun, hal tersebut kadang juga sering dilupakan oleh para pemilik sepeda motor tersebut.

Salah satu contoh, pemilihan bohlam lampu depan dan belakang pada sepeda motor.

Dibanyak kasus, para pemilik kendaraan yang notabene adalah anak muda, sering mengganti lampu depan mereka dengan warna yang dapat menyilaukan mata pengendara dari arah berlawanan ataupun dibelakangnya.

Terkadang, dengan alasan modifikasi hal tersebut telah dilakukan dan sebagai bukti pembenaran.

Kali ini tips yang akan saya sampaikan adalah cobalah hindari pemakaian lampu berwarna putih kebiru-biruan yang dipasang dengan tegak lurus searah jarak pandang pengendara dari arah berlawanan.

Efeknya, pengedara dari arah berlawanan dapat hilang jarak pandang sehingga dikhawatirkan dapat menyebabkan kecelakaan.

Lalu dengan lampu belakang juga demikian, penggunaan lampu berwarna terang dikhawatirkan dapat menyilaukan pengendara yang ada dibelakangnya.

Oleh karena itu, pilihlah bohlam yang sudah ditetapkan oleh para produsen motor. Dengan menggunakan bohlam yang tidak berlebihan cahayanya. Sebab, ketika berkendara bukan hanya kita saja yang perlu jarak pandang sempurna, para pengendara lain yang datang dari arah berlawanan ataupun belakang kita harus menjaga jarak pandangnya.

Bohlam dengan warna kuning keputihan, bisa menjadi salahsatu solusi untuk penggantian lampu bohlam headlamp anda.

So, bijaksanalah dalam berkendara dan penggunaan bohlam headlamp ataupun lampu belakang.

Kadang kita lihat lampu depan motor menyala tidak dengan terang, nah bagaimana solusinya:

1.Dengan lampu standart memang lampu sudah terang, bagaimana jika tidak terang, solusinya ganti dengan watt yang lebih kecil agar pijar yang dihasilkan lebih besar, tapi konsekuensinya usia lampu jadi lebih pendek.

2.Bohlam standart kurang terang?

ganti saja dengan HALOGEN yang notabene lebih terang. Tapi pakai lampu yang kualitasnya baik.

Biasanya trik memeriksa lampu itu baik atau tidak yaitu dengan telah melihat merk cetakan pada pembungkus dan pada bohlam, sama atau tidak. Pastikan juga lampu terlihat kokoh baik fisik luarnya dan filamennya. Untuk pemilihan watt-nya pakai saja sama dengan awalnya, karena lampu halogen telah memiliki sinar lampu lebih terang dari yang standard dengan watt sama. Hati-hati, ketika mengganti bohlam dengan jenis halogen, jangan memegang bola lampu karena akan meninggalkan warna kehitaman (blackening)

3.Halogen masih kurang terang?

Ganti saja dengan jenis XENON. Sifat sinarnya menyala, pasti lebih terang dari halogen. Namun lampu jenis XENON telah memiliki panas2x lipat, jadi beresiko dipakai pada reflektor dan kaca lampu standard.

Perhatikan bahan logam pembuat reflektor dan kaca depan lampu motor. Perhatikan pula kabel penghubung lampunya, ganti juga dengan yang tahan panas biar tidak meleleh.

4.HID XENON buat motor.

Awalnya lampu ini telah dibuat untuk mobil. Nah oleh karena motor juga pengen, akhirnya ada yang untuk motor juga. Dibuat khusus dan lebih kompleks pasti gan..

Ada beberapa pendukungnya: Bulb (bohlam) dan Ballast-nya. Dijamin tuerang puol… tembus kabut pula (katanya) Harganya hmmm… ada yang jual Rp. 350.000,-. Tapi untuk pasang lampu jenis ini, perhatikan keadaan aki. Aki harus dalam keadaan baik, alias tidak tekor.

Untuk aki kering kalo sudah lebih dari setahun, lebih baik diganti ya gan… demi HID XENON

Menteri Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi selambat-lambatnya tanggal 17 Juni 2013.

JAKARTA, Saco- Indonesia.com — Menteri Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi selambat-lambatnya tanggal 17 Juni 2013. Hal itu sesuai dengan selesainya rapat paripurna soal Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP 2013).

"Kenaikan harga BBM subsidi akan dilaksanakan selambat- lambatnya tanggal 17 Juni 2013 sesuai berakhirnya pembahasan APBNP 2013," kata Hatta Rajasa di Kantor Presiden seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet di Jakarta, Selasa (4/6/2013).

Lebih lanjut, Hatta mengatakan bahwa pembahasan APBNP 2013 bukan hanya menjadi kepentingan pemerintah, melainkan juga negara. Dengan demikian, semua pihak terikat dengan jadwal ketat yang sudah ditetapkan DPR.

"Begitu selesai di DPR, pemerintah akan langsung mengumumkan penyesuaian harga BBM beserta kompensasinya," kata Hatta. Penyesuaian harga BMM bersubsidi, kata Hatta, harus segera dilakukan secepatnya, dan yang penting masyarakat harus dibantu. Hatta mengingatkan kepada para spekulan untuk tidak main-main dengan harga dan tidak mencoba melakukan penimbunan BBM.

"Hentikan spekulasi seperti itu karena akan berhadapan dengan hukum. Jangan berspekulasi," katanya. Dalam rangka menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang puasa, Hatta mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan intervensi demi mencukupi ketersediaan pangan nasional.

"Kita bersyukur bulan Mei terjadi deflasi dan berharap pada bulan Juni ini inflasi tidak terlalu tinggi. Caranya dengan menjaga pasokan bahan pangan sehingga cukup," tambahnya.

Untuk mengantisipasi inflasi yang tinggi, pihaknya sudah meminta jajarannya untuk secepatnya melakukan intervensi untuk menjaga harga pangan, terutama daging.

"Kasihan nanti menjelang puasa daging harganya tinggi. Rakyat kita kan ingin makan daging," ungkapnya.

Sementara itu, Menko Kesra Agung Laksono mengatakan, penyesuaian harga BBM bersubsidi harus dilakukan secepatnya karena volume BBM subsidi terus meningkat. Jika berlarut-larut, maka akan ada risikonya.

"Saat ini kuota BBM bersubsidi telah melampaui batas, yakni mencapai 48 juta kiloliter dari sebelumnya 46 juta kiloliter," ujar Agung. Terkait adanya partai anggota-anggota koalisi di kabinet yang menolak kesepakatan bersama menyangkut harga BBM serta kompensasinya, Agung mengingatkan, sebagai anggota koalisi yang tergabung dalam sekretariat gabungan, sebaiknya kesepakatan politik apa pun yang sudah disepakati dengan cara demokratis dan ikhlas seharusnya tinggal dilaksanakan. Terlebih lagi, jika hal itu menyangkut kepentingan rakyat banyak.

 
Editor :Liwon Maulana(galipat)

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Mr. Goldberg was a serial Silicon Valley entrepreneur and venture capitalist who was married to Sheryl Sandberg, the chief operating officer of Facebook.

Dave Goldberg Was Lifelong Women’s Advocate

Artikel lainnya »