genset perkins genset foton genset cummins murah

Jual Sparepart Genset Lovol Murah di Klaten Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Lovol Murah di Klaten Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Lovol Murah di Klaten

Jual Sparepart Genset Lovol Murah di Klaten

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Lovol Murah di Klaten | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual Genset Perkins CHINA/LOVOL Kap 40 kva Prime power type 1004G Murah di Ngawi

Jual Genset Perkins CHINA/LOVOL Kap 40 kva Prime power type 1004G Murah di Ngawi Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual Genset Perkins CHINA/LOVOL Kap 40 kva Prime power type 1004G Murah di Ngawi

1. Pasanglah AC dengan menggunakan temperatur yang dikehendaki. Biasanya suhu disetel dimulai dari 18 sampai 32 derajat C. Kian

1. Pasanglah AC dengan menggunakan temperatur yang dikehendaki. Biasanya suhu disetel dimulai dari 18 sampai 32 derajat C. Kian rendah temperatur yang anda gunakan, maka kian dingin perputaran udara pada sparepart AC yang anda rasakan. Namun semakin rendah penyetelan mode dingin sparepart AC maka penggunaan daya listrik pun juga akan semakin besar. Untuk itu bijaklah dalam pemakaiannya.

2. Ketika akan menyalakan sparepart AC, tutuplah setiap ventilasi pintu juga jendela supaya udara dari luar tak masuk. Dengan begitu anda bisa merasakan kesejukan udara yang dihembuskan AC dengan maksimal. Apabila telah mati, untuk itu buka lagi ventilasi maupun pintu kamar lebar-lebar. Itu penting guna untuk penggantian udara pada ruangan supaya cenderung sehat serta Oke.

3. Tidak boleh ketinggalan agar senantiasa untuk membersihan pada peranti pendingin udara itu dengan rutin serta berkala. Apabila AC dipakai di ruangan serta area yang berlebih debu, dengan begitu pembersihan boleh dikerjakan dua kali sepekan. Apabila peranti pendingin udara itu dipakai di area maupun ruang yang sedikit berdebu, untuk itu pembersihan bisa dikerjakan 1 – 2 bulan sekali. Prioritaskan pembersihan di komponen penyaringan udara, sebab itu adalah alat penting supaya sparepart AC bisa hidup lebih dingin serta maksimal. Tidak boleh lupa cek freon, apakah tetap terisi penuh, kosong maupun bocor. Kerjakan pengecekannya kurang lebih enam bulan sekali. Jika anda tak mampu untuk membersihkannya seorang diri, hubungi saja bagian bantuan servis resmi sesuai brand AC yang anda miliki.

4. Gunakan Kapasitas serta desain peranti pas keperluan anda juga besar-kecilnya kamar. Pada kamar tidur, bisa memakai Kapasitas AC dimulai dari ½ sampai 1 PK. Pada ruang tamu boleh pakai 1,5 sampai 3 PK. So tidak boleh kekecilan ataupun terlalu besar. Pada ruang rapat yang luas, anda bisa menggunakan AC yang mempunyai model floor standing. Sementara pada ruang kantor yang luas, desain AC ceiling cassette pun lebih bagus.

5. Ketika akan membeli sparepart AC, ada bagusnya anda banyak mengadakan penelitian lebih dulu. Temukan fakta sedtil-detilnya mengenai AC yang Sekarang ini lagi beredar, dapat lewat katalog, surat kabar, majalah maupun hadir ketika ada pameran elektronik. Seleksi AC yang irit penggunaan listriknya, merek jelas, harganya tergapai serta bantuan servis yang layak. Makin AC yang anda gunakan irit listrik, itu artinya anda pun ikut mendukung irit penggunaan listrik serta mencintai lingkungan.

6. Gunakan sparepart AC yang sanggup menyaring udara dengan maksimal. Tidak cuma menghadirkan udara dingin semata, akan tetapi AC itu pun bisa menyaring udara yang tercemar oleh virus penyakit, patogen, maupun bakteri yang mengganggu bagi kesehatan badan anda. Ingatlah selalu bahwa dibalik kesejukan udara AC terdapat efek samping yang bisa membahayakan kesehatan anda bila digunakan dengan terus menerus.

SEJARAH PULAU TIDUNG Indonesia terkenal dengan ragam budaya dan wisatanya, tak ketinggalan tempat wisata yang berada di daerah jakarta utara ini, tepatnya di suatu pulau dengan nama pulau tidung.Banyak orang berdatangan untuk berwisata ke pulau indah ini, karena keunikan dan keindahan pulau ini, tempat wisata ini tentunya mempunyai sejarah tersendiri, kenapa harus dinamakan pulau tidung.mari kita simak sejarahnya pulau tidung.

SEJARAH PULAU TIDUNG

By  :  Bro Iman

 

Indonesia terkenal dengan ragam budaya dan wisatanya, tak ketinggalan tempat wisata yang berada di daerah jakarta utara ini, tepatnya di suatu pulau dengan nama pulau tidung.Banyak orang berdatangan untuk berwisata ke pulau indah ini, karena keunikan dan keindahan pulau ini, tempat wisata ini tentunya mempunyai sejarah tersendiri, kenapa harus dinamakan pulau tidung.mari kita simak sejarahnya pulau tidung.


Pada Awalnya Pulau Tidung diambil dari nama tempat yang ada di daerah Kalimantan Timur , tepatnya dari desa malinau yaitu "tana tidung"Kok diberi  nama "tidung" kenapa ? karena yang memberi nama pada waktu itu adalah seorang Raja besar dan terkenal di kalimantan waktu itu, dari suku Tidung.

Pada awalnya indonesia masih di jajah oleh kolonial yang bengis dan kejam, siapa yang tidak ingat penjajahan belanda selama 3,5 abad. Yang mana seorang raja ini awalnya diusir oleh kolonial belanda, karena tidak mau diajak untuk bekerjasama dan menjadi anteknya di kalimantan timur ,Hal ini di dasarkan karena ia  seorang raja sekaligus tokoh pahlawan yang tidak ingin di jajah oleh kolonial belanda pada waktu itu. Nama dari Raja pada waktu itu adalah Raja Pandita alias Kaca alias Sapu.

Dalam perjalannanya di usir dari tana tidung, akhirnya raja pandita meneruskan perjalannanya tak tentu arah dan tujuan, mau kemana, ketemu siapa, diliputi rasa bingung yang tak karuan.Sepanjang perjalanan, akhirnya
dia sampai di jepara, setelah itu ia meneruskan perjalanan nya dengan tekad yang mulia ini, akhirnya sampailah ia di pulau terpencil, di pinggiran jakarta, yang sekarang terkenal dengan nama pulau tidung ini.

Hari berganti hari, terus berlalu, hingga berganti bulan dan tahun, yang mana dengan keberadaan raja pandita di pulau tidung itu tidak ada satu orangpun yang tahu kalau dia adalah seorang raja yang pertamakali datang ke pulau tidung itu adalah seorang raja dari kalimantan Timur.Karena raja pandita pergi dari kalimantan timur, tidak membawa gelar sebagai raja, karena waktu itu tidak di dampingi oleh para prajuritnya.Raja pandita pada waktu itu hanya dikenal dengan sebutan "Kaca".
Sampai meninggalnya pun Kaca hanya dikenal sebagai masyarakat biasa yang tidak beda dengan masyarakat lainnya.


Beberapa puluh Tahun kemudian datanglah sekelompok keluarga Raja Pandita dari Kalimantan Timur dan mencari tahu tentang keberadaan raja pandita.Pulau ini mengapa bernama Pulau Tidung? singkat cerita keluarga Raja Pandita dari Kaltim bertemu dengan keluarga Kaca di Pulau Tidung  ketika keluarga Raja Pandita Bertanya kepada keluarga Kaca dan ternyata menurut kelurga Raja Pandita bahwa Kaca adalah nama kecil Raja Pandita sebelum diangkat dari Raja.
dan akhirnya keduanya mengambil kesimpulan bahwa nama Pulau Tidung di beri nama dari Raja Pandita yang berasal dari tanah tidung Kalimantan Timur.

Itulah sejarah singkat tentang keberadaan pulau tidung yang sekarang banyak di kunjungi oleh wisatawan,
baik dari dalam negeri, maupun luar negeri.

Sejarah yang lainnya tentang pulau pulau di sekitar pulau tidung akan saya ceritakan di www.pulautidungjaya.com

 

sumber : http://pulautidungjaya.com

GREENWICH, Conn. — Mago is in the bedroom. You can go in.

The big man lies on a hospital bed with his bare feet scraping its bottom rail. His head is propped on a scarlet pillow, the left temple dented, the right side paralyzed. His dark hair is kept just long enough to conceal the scars.

The occasional sounds he makes are understood only by his wife, but he still has that punctuating left hand. In slow motion, the fingers curl and close. A thumbs-up greeting.

Hello, Mago.

This is Magomed Abdusalamov, 34, also known as the Russian Tyson, also known as Mago. He is a former heavyweight boxer who scored four knockouts and 14 technical knockouts in his first 18 professional fights. He preferred to stand between rounds. Sitting conveyed weakness.

But Mago lost his 19th fight, his big chance, at the packed Theater at Madison Square Garden in November 2013. His 19th decision, and his last.

Now here he is, in a small bedroom in a working-class neighborhood in Greenwich, in a modest house his family rents cheap from a devoted friend. The air-pressure machine for his mattress hums like an expectant crowd.

 

Photo
 
Mike Perez, left, and Magomed Abdusalamov during the fight in which Abdusalamov was injured. Credit Joe Camporeale/USA Today Sports, via Reuters

 

Today is like any other day, except for those days when he is hurried in crisis to the hospital. Every three hours during the night, his slight wife, Bakanay, 28, has risen to turn his 6-foot-3 body — 210 pounds of dead weight. It has to be done. Infections of the gaping bedsore above his tailbone have nearly killed him.

Then, with the help of a young caretaker, Baka has gotten two of their daughters off to elementary school and settled down the toddler. Yes, Mago and Baka are blessed with all girls, but they had also hoped for a son someday.

They feed Mago as they clean him; it’s easier that way. For breakfast, which comes with a side of crushed antiseizure pills, he likes oatmeal with a squirt of Hershey’s chocolate syrup. But even oatmeal must be puréed and fed to him by spoon.

He opens his mouth to indicate more, the way a baby does. But his paralysis has made everything a choking hazard. His water needs a stirring of powdered food thickener, and still he chokes — eh-eh-eh — as he tries to cough up what will not go down.

Advertisement

Mago used to drink only water. No alcohol. Not even soda. A sip of juice would be as far as he dared. Now even water betrays him.

With the caretaker’s help, Baka uses a washcloth and soap to clean his body and shampoo his hair. How handsome still, she has thought. Sometimes, in the night, she leaves the bedroom to watch old videos, just to hear again his voice in the fullness of life. She cries, wipes her eyes and returns, feigning happiness. Mago must never see her sad.

 

Photo
 
 Abdusalamov's hand being massaged. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

When Baka finishes, Mago is cleanshaven and fresh down to his trimmed and filed toenails. “I want him to look good,” she says.

Theirs was an arranged Muslim marriage in Makhachkala, in the Russian republic of Dagestan. He was 23, she was 18 and their future hinged on boxing. Sometimes they would shadowbox in love, her David to his Goliath. You are so strong, he would tell her.

His father once told him he could either be a bandit or an athlete, but if he chose banditry, “I will kill you.” This paternal advice, Mago later told The Ventura County Reporter, “made it a very easy decision for me.”

Mago won against mediocre competition, in Moscow and Hollywood, Fla., in Las Vegas and Johnstown, Pa. He was knocked down only once, and even then, it surprised more than hurt. He scored a technical knockout in the next round.

It all led up to this: the undercard at the Garden, Mike Perez vs. Magomed Abdusalamov, 10 rounds, on HBO. A win, he believed, would improve his chances of taking on the heavyweight champion Wladimir Klitschko, who sat in the crowd of 4,600 with his fiancée, the actress Hayden Panettiere, watching.

Wearing black-and-red trunks and a green mouth guard, Mago went to work. But in the first round, a hard forearm to his left cheek rocked him. At the bell, he returned to his corner, and this time, he sat down. “I think it’s broken,” he repeatedly said in Russian.

 

Photo
 
Bakanay Abdusalamova, Abdusalamov's wife, and her injured husband and a masseur in the background. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

Maybe at that point, somebody — the referee, the ringside doctors, his handlers — should have stopped the fight, under a guiding principle: better one punch too early than one punch too late. But the bloody trade of blows continued into the seventh, eighth, ninth, a hand and orbital bone broken, his face transforming.

Meanwhile, in the family’s apartment in Miami, Baka forced herself to watch the broadcast. She could see it in his swollen eyes. Something was off.

After the final round, Perez raised his tattooed arms in victory, and Mago wandered off in a fog. He had taken 312 punches in about 40 minutes, for a purse of $40,000.

 

 

In the locker room, doctors sutured a cut above Mago’s left eye and tested his cognitive abilities. He did not do well. The ambulance that waits in expectation at every fight was not summoned by boxing officials.

Blood was pooling in Mago’s cranial cavity as he left the Garden. He vomited on the pavement while his handlers flagged a taxi to St. Luke’s-Roosevelt Hospital. There, doctors induced a coma and removed part of his skull to drain fluids and ease the swelling.

Then came the stroke.

 

Photo
 
A championship belt belonging to Abdusalamov and a card from one of his daughters. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

It is lunchtime now, and the aroma of puréed beef and potatoes lingers. So do the questions.

How will Mago and Baka pay the $2 million in medical bills they owe? What if their friend can no longer offer them this home? Will they win their lawsuits against the five ringside doctors, the referee, and a New York State boxing inspector? What about Mago’s future care?

Most of all: Is this it?

A napkin rests on Mago’s chest. As another spoonful of mush approaches, he opens his mouth, half-swallows, chokes, and coughs until it clears. Eh-eh-eh. Sometimes he turns bluish, but Baka never shows fear. Always happy for Mago.

Some days he is wheeled out for physical therapy or speech therapy. Today, two massage therapists come to knead his half-limp body like a pair of skilled corner men.

Soon, Mago will doze. Then his three daughters, ages 2, 6 and 9, will descend upon him to talk of their day. Not long ago, the oldest lugged his championship belt to school for a proud show-and-tell moment. Her classmates were amazed at the weight of it.

Then, tonight, there will be more puréed food and pulverized medication, more coughing, and more tender care from his wife, before sleep comes.

Goodbye, Mago.

He half-smiles, raises his one good hand, and forms a fist.

Mr. Fox, known for his well-honed countrified voice, wrote about things dear to South Carolina and won over Yankee critics.

Artikel lainnya »