Sparpart genset murah genset perkins genset foton genset cummins murah genset lovol 100 kva harga

Tiga pencuri bahan baku celana jeans yang beraksi di Jalan Kota Bambu Selatan, Kec. Palmerah, Jakarta Barat telah diringkus karyawan toko dibantu warga, Rabu (12/3) siang. Dari mereka telah berhasil disita 1 bal kain jeans senilai Rp2,5 juta serta mobil Suzuki Carry yang digunakan untuk beraksi.

Tiga pencuri bahan baku celana jeans yang beraksi di Jalan Kota Bambu Selatan, Kec. Palmerah, Jakarta Barat telah diringkus karyawan toko dibantu warga, Rabu (12/3) siang. Dari mereka telah berhasil disita 1 bal kain jeans senilai Rp2,5 juta serta mobil Suzuki Carry yang digunakan untuk beraksi.

Terungkapnya kasus ini telah berawal dari kecurigaan pemilik toko, H.Fredy yang berusia 45 tahun , saat melihat CCTV dari rumahnya karena ada orang yang gerak-geriknya hendak mencuri. Ia kemudian menelpon anak buahnya, Enjet untuk mengecek tempat itu.

Dengan naik motor, Enjet telah mendatangi tempat usaha bosnya. Ternyata benar, ada tiga pria yang baru memasukkan 1 bal bahan celana jeans ke mobilnya dan langsung pergi. Enjet kemudian mengejar pelaku yang kabur ke arah Petamburan.

sambil teriak rampok, Enjet terus mengikuti mobil pelaku. Warga yang telah mendengar teriakan korban ikut membantu dan menghentikan mobil pelaku. Karena terkena macet, pencuri ini telah berhasil ditangkap. Kesal dengan ulah pelaku, massa pun telah menghakimi tiga pelaku yakni Reka Satria, 24, Agung Satria, 21, dan Andre Irawan, 21.

Kapolsek Palmerah, Kompol Sukatma SH didampingi Kanit Reskrim AKP Juhari Bule SH menjelaskan, terungkapnya kasus ini berkat adanya CCTV di tempat usaha korban. “Kami juga sudah mengarahkan pemilik usaha seperti minimarket, perusahaan, atau lainnya untuk dapat melengkapi CCTV. Hal ini ada hasilnya, terbukti pelaku pencurian ditangkap,” ujarya.

saco-indonesia.com, Seorang balita tewas tertembak senapan angin di bagian belakang kepalanya. Korban meninggal dunia saat menja

saco-indonesia.com, Seorang balita tewas tertembak senapan angin di bagian belakang kepalanya. Korban meninggal dunia saat menjalani perwatan di rumah sakit Dr. Haryoto.

Pelaku yang tak lain adalah paman korban, Nawawi, telah diamankan ke mapolsek Sukodono beserta barang bukti senapan angin. Korban yang diduga telah terkena tembakan pamannya yang sedang latihan di belakang rumahnya.

Informasi yang telah berhasil dihimpun, Korban Daniah yang berusia 5 tahun putri pasangan Wawan dan Fitriah, warga desa karangsari Kecamatan Sukodono telah dilarikan kerumah sakit akibat tertembak senapan angin/ di bagian belakang kepalanya.

Kejadian ini, bermula saat pamannya, Nawawi, sedang berlatih menembak  di belakang halaman rumahnya. Tak disangka korban yang melintas dan tertembak di bagian kepala belakangnya.

Korban akhinya tewas setelah menjalani perwatan intesif dirumah sakit pemerintah. Diduga korban meninggal ada pendaharan dibagian otaknya. “Latihan tidak melihat sekelilingnya,” terang Faisol, kerabat korban.

Setelah melakukan pemeriksaan intensif, polisi akhirnya telah menetapkan Nawawi sebagai tersangka dan langsung dijebloskan ke tahanan Mapolsek Sukodono.
“Setelah cukup bukti,petugas langsung menetapkan (Nawawi-red)sebagai tersangka dan langsung ditahan,” Ujar

Kapolsek Sukodono, AKP Sudartono seraya juga mengatakan lokasi terjadi penembakan, dibelakang rumah yang telah dijadikan tempat latihan menembak.
Ditambahkanya, dari pemeriksaan penembakan dikarenakan ketidak sengajaan.

Namun pelaku juga tidak memperhatikan keamanan latihan menembak. “Kami telah mengancam tersangka dengan Undang-undang perlindungan anak, karena lalai bermain senapan angin hingga memakan korban jiwa,”terang Sudartono

Sementara itu, pihak keluarga korban telah menyerahkan kasus ini kepolisi. Bahkan korban juga berharap pelaku dihukum dengan seberat beratnya.

“Karena tersangka bermain tembak-tembakan di gang rumah yang padat penduduk,” ujar Thoriq, keluarga korban.


Editor : Dian sukmawati

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Children playing last week in Sandtown-Winchester, the Baltimore neighborhood where Freddie Gray was raised. One young resident called it “a tough community.”
Todd Heisler/The New York Times

Children playing last week in Sandtown-Winchester, the Baltimore neighborhood where Freddie Gray was raised. One young resident called it “a tough community.”

Hard but Hopeful Home to ‘Lot of Freddies’

Artikel lainnya »