Sparpart genset murah genset perkins genset foton genset cummins murah genset lovol 100 kva harga
jual ECM perkins agen ECM perkins distributor ECM perkins toko ECM perkins seting ECM perkins

Setelah menjalani perawatan satu minggu di RS Atmajaya, Pluit, karyawati yang telah menjadi korban penusukan penjahat di Jalan Tiang Bendera, Roa Malaka, Kec. Tambora, akhirnya tewas.

Setelah menjalani perawatan satu minggu di RS Atmajaya, Pluit, karyawati yang telah menjadi korban penusukan penjahat di Jalan Tiang Bendera, Roa Malaka, Kec. Tambora, akhirnya tewas.

Tewasnya Lutfi Alfiatin yang berusia 20 tahun , telah menimbulkan kesedihan bagi keluarganya. Mereka juga berharap pelaku yang sudah ditangkap satu orang, dan lainnya buron dihukum seberat-beratnya.

Lutfi ditodong dua pria saat berjalan kaki pada Selasa (4/3) pukul 23.30 WIB, setelah lembur di tempat kerjanya, kawasan Kota, Jakarta Barat. Pelaku mengambil tas isi uang Rp200 ribu.

Tak mau tasnya berpindah tangan, korban melawan hingga membuat pelaku kesal dan menusuk perutnya. Usai menggasak tas korban, pelaku kabur ke arah Kota. Petugas Polsek Tambora yang menangani kasus ini menembak mati pelakunya yakni Heri Firmansyah, 26, dan Hilman, 23, ditembak di kaki.

Kapolsek Tambora, KOmpol Dedy Tabrani MSi didampingi Kanit Reskrim, AKP Widharma Jaya juga menyatakan, keluarga korban menolak jenazah diotopsi karena akan dibawa ke kampung halaman. “Kasusnya tetap kami proses karena masih ada satu pelaku yang dalam proses pemberkasan ke kejaksaan,” ungkapnya.

Ada banyak cara untuk menilai sesuatu itu dikatakan terpopuler. Diperlukan kriteria atau parameter untuk mengukurnya. Termasuk s

Ada banyak cara untuk menilai sesuatu itu dikatakan terpopuler. Diperlukan kriteria atau parameter untuk mengukurnya. Termasuk sosial media yang sedang booming saat ini. Apakah sosial media terpopuler saat ini menurut Anda? Tak ada salahnya Anda menyimak tulisan dibawah ini.

Populer menurut sebagian orang memiliki arti (1) dikenal dan disukai orang banyak (umum), (2) sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya; mudah dipahami orang banyak, (3) disukai dan dikagumi orang banyak. Berikut adalah kriteria sosial media terpopuler menurut penulis :

1. Jumlah Anggota

Semakin banyak anggotanya, semakin banyak yang memasang iklan. Semakin banyak income yang dihasilkan sebuah sosial media dari periklanan, semakin besar peluang untuk berkembang.

2. Banyak Sedikitnya Fasilitas yang Dimiliki

Semakin banyak jumlah fasilitas dan jenis yang dimiliki sebuah sosial media. Kemungkinan untuk menarik minat anggota baru dari semua kalangan semakin besar.

3. Bisa Diakses di Semua Negara

Sosial media tidak untuk kalangan tertentu saja, maka dari itu harus bisa menjangkau seluruh kalangan.

4. Up To Date

Tanpa meninggalkan identitas yang menjadi trend sebelumnya. Dari segi penampilan dan content biasanya ada perubahan-perubahan yang inovatif. Agar selalu segar dan tetap diminati banyak kalangan.

5. Ada Predikat Keanggotan

Untuk mengetahui valid tidaknya berita atau informasi, salah satunya bisa dilihat dari predikat keanggotaanya. Terpercaya atau tidak, namun belum tentu pula yang paling aktif adalah yang paling valid. Nah, masih perlukah predikat keanggotaan? Semua ada positif negatifnya.

6. Bisa Menghasilkan Uang

Tidak dipungkiri sosial media saat ini telah menyita sebagian waktu anggotanya. Ada yang telah dan mulai untuk menghasilkan uang dari sosial media ini.

7. Interaktif Dengan Anggotanya

Untuk meningkatkan dan menjaga kualitasnya, sosial media biasanya melakukan interaksi dengan anggotanya secara kontinyu dan berkelanjutan. Baik lewat survey, FAQ (Frequently Asked Question) maupun yang lainnya.

8. Gratis

Gratis adalah daya tarik tersendiri. Namun bukan jaminan suatu sosial media digemari.

Urutan nomer di atas bukan berdasarkan prioritas. Karena semua ada masanya, sosial media terpopuler saat ini belum tentu populer untuk masa mendatang.

 

Jasa penerjemah

Under Mr. Michelin’s leadership, which ended when he left the company in 2002, the Michelin Group became the world’s biggest tire maker, establishing a big presence in the United States and other major markets overseas.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »