Sparpart genset murah genset perkins genset foton genset cummins murah genset lovol 100 kva harga

Jual Sparepart Genset Doosan di Murung Raya Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Doosan di Murung Raya Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Doosan di Murung Raya

Jual Sparepart Genset Doosan di Murung Raya

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Doosan di Murung Raya | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual genset cummins kapasitas 10 kva - 650kva di Sulawesi Barat

Jual genset cummins kapasitas 10 kva - 650kva di Sulawesi Barat Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual genset cummins kapasitas 10 kva - 650kva di Sulawesi Barat

Pemberitaan mengenai kasus hukum yang dibumbui kisah sejumlah wanita di sekelilingnya serta kehidupan para pejabat tinggi yang gonta-ganti pasangan membuat saya harus mengingatkan bahwa kehidupan seks bebas berisiko berbagai penyakit terutama Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Saco-Indonesia.com - Pemberitaan mengenai kasus hukum yang dibumbui kisah sejumlah wanita di sekelilingnya serta kehidupan para pejabat tinggi yang gonta-ganti pasangan membuat saya harus mengingatkan bahwa kehidupan seks bebas berisiko berbagai penyakit terutama Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Pengalaman klinis saya sebagai dokter spesialis penyakit dalam menemukan, pasien dengan HIV terjadi pada semua kalangan. Penyakit ini bisa menulari semua profesi. Ibu rumah tangga (IRT) yang tidak gonti- ganti pasanganpun menderita HIV karena mungkin tertular dari suaminya yang suka "jajan" diluar.

Seorang ibu muda baik-baik yang akan menikah positif mengidap HIV karena kemungkinan tertular dari mantan pacarnya yang memakai narkoba, dimana saat pacaran sewaktu duduk di bangku SMA pernah berhubungan seks beberapa kali. Berdasarkan pengalaman ini, untuk memastikan apakah seseorang menderita HIV AIDS, saya tidak akan melihat status sosial pasien tersebut walau sehormat apapun status sosial pasien tersebut.

Beberapa kali media pernah menguak kehidupan seks para oknum pejabat dan petinggi negara. Gonta-ganti pasangan sepertinya sesuatu hal yang berjalan lumrah. Pejabat tinggi negara termasuk para penguasa daerah yang beristri lebih dari satu juga bukan rahasia lagi. Gratifikasi seks juga sudah tidak menjadi rahasia umum lagi.

Dari sudut agama, jelas bahwa hubungan seks di luar pernikahan merupakan zinah dan amal ibadah orang yang melakukan zinah  tidak diterima selama 40 tahun. Dari sudut kesehatan gonta-ganti pasangan berisiko penyakit, kelompok penyakit akibat gonta-ganti pasangan ini dimasukan sebagai sexually transmitted disease (STD). Untak para wanita yang gonta-ganti pasangan selain penyakit STD tadi juga berisiko untuk terjadinya kanker mulut rahim sedang untuk laki-laki gonta-ganti pasien akan menambah risiko untuk menderita kanker prostat dikemudian hari.

Saya masih ingat ketiga seseorang pasien laki-laki muda datang kepada saya karena menderita infeksi kencing nanah (GO) setelah berhubungan dengan wanita "baik- baik".

Sang pasien tidak habis pikir wanita yang disangka "baik- baik" tersebut ternyata menularkan kencing nanah kepada dirinya. Saat itu saya sampaikan kepada pasien tersebut kalau penyakit kelamin tidak mengenal status sosial pasien yang mengalami penyakit kelamin tersebut.

Siapapun yang berhubungan seks dengan dengan seseorang dengan kehidupan seks gonta-ganti pasangan berpotensi menularkan penyakit yang didapat dari pasangan seks sebelumnya. Pasien dengan HIV positif atau dengan hepatitis B atau C sama dengan orang normal tanpa infeksi virus tersebut. Ketiga penyakit virus ini merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual.

Yang membedakan bahwa satu dengan yang lain adalah bahwa didalam darah pasien dengan HIV atau pasien dengan hepatitis B atau C mengandung virus tersebut sedang yang lain tidak. Secara fisik tidak dapat dibedakan siapa yang didalam tubuhnya mengandung virus yang sangat berbahaya tersebut.

Oleh karena itu, saat kita berhubungan seks dengan seseorang yang bukan istri kita maka kita sudah berisiko untuk mengalami penyakit infeksi yang berbahaya dan mematikan. Fase tanpa keluhan penderita infeksi virus ini dapat berlangsung selama 5-10 tahun sampai mereka mempunyai gejala. Oleh karena itu sering saya mendapatkan pasien yang mengalami HIV AIDS saat ini dan menduga tertular pada saat 5 atau 10 tahun yang lalu karena mereka menyampaikan setelah menikah 5 tahun belakangan ini mereka tidak pernah berhubungan seks dengan orang lain kecuali kepada istri atau suami sahnya saja.

Kita tahu bahwa penyakit HIV AIDS merupakan penyakit yang berbahaya dan mematikan.Penyakit ini disebabkan oleh virus "Human Immunodeficiency Virus" (HIV), sampai saat ini vaksin yang established yang dapat digunakan secara luas belum ditemukan. Obat-obat anti retroviral (ARV) yang ada saat ini sudah mampu menekan jumlah virus sampai tidak terdeteksi. Bukti klinik membuktikan bahwa pengobatan dengan ARV bisa menekan penyebaran virus sampai lebih 90 %. Di Indonesia ARV saat ini masih gratis dengan akses mudah untuk mendapatkannya. Memang saat ini angka penggunaan ARV di Indonesia masih rendah. Pasien-pasien HIV yang tidak mau mengkonsumsi ARV dengan berbagai alasan lebih cepat menghadap Yang Maha Kuasa.

Gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita infeksi HIV yang sudah lanjut, jika daya tahan tubuhnya sudah menurun. Berbagai infeksi oportunistik akan muncul seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit atau berupa timbul hitam2 dikulit. Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut ini mengalami berat badan turun. Hasil pemeriksaan laboratorium pasien terinfeksi HIV yang lanjut jumlah lekosit akan kurang dari 5.000 dengan limfosit kurang dari 1.000. Diare kronik, sariawan dimulut dan berat badan turun merupakan gejala utama jika pasien sudah mengalami infeksi HIV lanjut dan sudah masuk fase AIDS.

Bagaimana mencegah infeksi ini lebih lanjut?
Stop gonta-ganti pasangan, stop gratifikasi seks. Siapa saja yang pernah melakukan hubungan seksual, terutama hubungan seksual di luar nikah dan pernah menggunakan jarum suntik yang tidak steril atau pernah menggunakan Narkoba jarum suntik dianjurkan untuk memeriksa status HIVnya. Karena semakin dini pasien HIV diberikan obat anti virus (ARV) semakin cepat menurunkan jumlah virus dan mengurangi potensi penularan dan tentu pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV tersebut

Gonta-ganti pasangan bukan merupakan budaya tapi merupakan kebiasaan dan tentunya kebiasaan buruk. Risiko gonta-ganti pasangan bukan saja pada prianya tapi juga wanitanya, ketika seseorang wanita dirayu oleh uang dan harta dan mengikuti keinginan naluri seks yang memberi uang, sebenarnya para wanita tersebut juga sudah berisiko untuk tertular penyakit dari laki- laki tersebut, begitu pula sebaliknya ketika si pria berhubungan dengan wanita yang mudah diraih dengan rayuan uang atau harta, laki-laki tersebut juga harus sadar mungkin para wanita tersebut baru saja jatuh dari pelukan laki-laki lain yang belum jelas status HIVnya.

Bagi yang belum terjebak dari kebiasaan gonta-ganti pasangan sebaiknya tidak berhubungan seks sebelum menikah dan tetap setia dengan satu pasangan agar tidak terjebak kebiasaaan gonta-ganti pasangan yang beriko penyakit yang berat dan mematikan walau kesenangan tersebut dapat diraih dengan mudah.

Salam sehat,

Dr. Ari Fahrial Syam

Editor : Liwon Maulana

saco-indonesia.com, Martogi Marpaung yang berusia (49) tahun alias Yogi seorang pria paruh baya telah ditemukan tewas dengan luk

saco-indonesia.com, Martogi Marpaung yang berusia (49) tahun alias Yogi seorang pria paruh baya telah ditemukan tewas dengan luka tusuk di perut. Yogi telah ditemukan di dalam kamar kosnya di lantai dua, Jalan Kebun Sayur RT 02/07, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Informasi dari Humas Polda Metro, Senin (30/12), jasad Yogi telah ditemukan setelah warga mencium bau tak sedap dari kamar kos di Jalan Kebon Sayur RT 02 RW 07 Nomor 2, Tanah Abang itu. Setelah membuka kamar itu, warga telah mendapati Yogi tewas secara mengenaskan. Penemuan jasad karyawan toko buku ini sontak telah membuat warga sekitar gempar warga sekitar.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (Olah TKP), polisi telah menemukan sebilah pisau yang diduga digunakan pelaku untuk dapat menghabisi nyawa Yogi. Kini, polisi juga masih menyelidiki siapa pelaku pembunuhan sadis tersebut.

Untuk kepentingan lebih lanjut, jasad Yogi dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta untuk dapat diautopsi. Kasusnya sedang ditangani oleh Polsek Tanah Abang.


Editor : Dian Sukmawati

Public perceptions of race relations in America have grown substantially more negative in the aftermath of the death of a young black man who was injured while in police custody in Baltimore and the subsequent unrest, far eclipsing the sentiment recorded in the wake of turmoil in Ferguson, Mo., last summer.

Americans are also increasingly likely to say that the police are more apt to use deadly force against a black person, the latest New York Times/CBS News poll finds.

The poll findings highlight the challenges for local leaders and police officials in trying to maintain order while sustaining faith in the criminal justice system in a racially polarized nation.

Sixty-one percent of Americans now say race relations in this country are generally bad. That figure is up sharply from 44 percent after the fatal police shooting of Michael Brown and the unrest that followed in Ferguson in August, and 43 percent in December. In a CBS News poll just two months ago, 38 percent said race relations were generally bad. Current views are by far the worst of Barack Obama’s presidency.

The negative sentiment is echoed by broad majorities of blacks and whites alike, a stark change from earlier this year, when 58 percent of blacks thought race relations were bad, but just 35 percent of whites agreed. In August, 48 percent of blacks and 41 percent of whites said they felt that way.

Looking ahead, 44 percent of Americans think race relations are worsening, up from 36 percent in December. Forty-one percent of blacks and 46 percent of whites think so. Pessimism among whites has increased 10 points since December.

Continue reading the main story
Do you think race relations in the United States are generally good or generally bad?
60
40
20
0
White
Black
May '14
May '15
Generally bad
Continue reading the main story
Do you think race relations in the United States are getting better, getting worse or staying about the same?
Getting worse
Staying the same
Getting better
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
44%
37
17
46
36
16
41
42
15

The poll finds that profound racial divisions in views of how the police use deadly force remain. Blacks are more than twice as likely to say police in most communities are more apt to use deadly force against a black person — 79 percent of blacks say so compared with 37 percent of whites. A slim majority of whites say race is not a factor in a police officer’s decision to use deadly force.

Overall, 44 percent of Americans say deadly force is more likely to be used against a black person, up from 37 percent in August and 40 percent in December.

Blacks also remain far more likely than whites to say they feel mostly anxious about the police in their community. Forty-two percent say so, while 51 percent feel mostly safe. Among whites, 8 in 10 feel mostly safe.

One proposal to address the matter — having on-duty police officers wear body cameras — receives overwhelming support. More than 9 in 10 whites and blacks alike favor it.

Continue reading the main story
How would you describe your feelings about the police in your community? Would you say they make you feel mostly safe or mostly anxious?
Mostly safe
Mostly anxious
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
75%
21
3
81
16
3
51
42
7
Continue reading the main story
In general, do you think the police in most communities are more likely to use deadly force against a black person, or more likely to use it against a white person, or don’t you think race affects police use of deadly force?
Police more likely to use deadly force against a black person
Police more likely to use deadly force against a white person
Race DOES NOT affect police use of deadly force
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
44%
37%
79%
2%
2%
1%
46%
53%
16%
9%
8%
4%
Continue reading the main story
Do you favor or oppose on-duty police officers wearing video cameras that would record events and actions as they occur?
Favor
Oppose
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
92%
93%
93%
6%
5%
5%
2%
2%
2%

Asked specifically about the situation in Baltimore, most Americans expressed at least some confidence that the investigation by local authorities would be conducted fairly. But while nearly two-thirds of whites think so, fewer than half of blacks agree. Still, more blacks are confident now than were in August regarding the investigation in Ferguson. On Friday, six members of the police force involved in the arrest of Mr. Gray were charged with serious offenses, including manslaughter. The poll was conducted Thursday through Sunday; results from before charges were announced are similar to those from after.

Reaction to the recent turmoil in Baltimore, however, is similar among blacks and whites. Most Americans, 61 percent, say the unrest after Mr. Gray’s death was not justified. That includes 64 percent of whites and 57 percent of blacks.

Continue reading the main story
As you may know, a Baltimore man, Freddie Gray, recently died after being in the custody of the Baltimore police. How much confidence do you have that the investigation by local authorities into this matter will be conducted fairly?
A lot
Some
Not much
None at all
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
29%
31
22
14
5
31
33
20
11
5
20
26
30
22
In general, do you think the unrest in Baltimore after the death of Freddie Gray was justified, or do you think the unrest was not justified?
Justified
Not justified
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
28%
61
11
26
64
11
37
57
6

Mr. Paczynski was one of the concentration camp’s longest surviving inmates and served as the personal barber to its Nazi commandant Rudolf Höss.

Artikel lainnya »