Sparpart genset murah genset perkins genset foton genset cummins murah genset lovol 100 kva harga
jual ECM perkins agen ECM perkins distributor ECM perkins toko ECM perkins seting ECM perkins

saco-indonesia.com, Memilih AC atau air conditioner Indonesia yang baik dan benar tentu nya sangat baik ketika kita ingin membel

saco-indonesia.com, Memilih AC atau air conditioner Indonesia yang baik dan benar tentu nya sangat baik ketika kita ingin membeli sebuah produk air conditioner Indonesia atau ac. Apalagi Indonesia juga merupakan daerah yang beriklim tropis yang telah memiliki 2 musim yakni musim hujan dan musim panas. Ketika datang musim panas atau kemarau, udara sejuk juga merupakan dambaan bagi setiap masyarakat. Dan udara sejuk telah menjadi suatu kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Oleh karena itu kebutuhan akan air conditioner atau ac telah menjadi sangat penting. Maka dari itu, banyak keluarga yang telah membeli ac untuk tempat tinggal mereka. Namun, seperti nya kita juga sama-sama ketahui bahwa air conditioner atau ac ini harga nya juga cukup mahal. Tidak hanya itu memiliki ac di rumah, juga akan membutuhkan perawatan dan ini juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
AC, Bagaimana Cara Memilih nya ?

acAC atau air conditioner Indonesia tidak hanya memiliki satu jenis saja, melainkan banyak jenis. Tidak hanya itu saja , banyak nya merek ac yang telah ditawarkan, ini telah membuat para pembeli harus cermat dan jeli dalam memilih jenis ac yang aman dan ramah terhadap lingkungan. Nah, beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai pertimbangan dalam memilih ac yang baik dan benar, yaitu :

    Lihat dari segi fungsi. Kita pasti saat membeli suatu barang, karena fungsi dan manfaat nya. Begitu pula dengan membeli mesin pendingin ini. Kita tahu bahwa ac berfungsi untuk dapat menghadirkan udara yang sejuk. Maka dari itu, belilah produk mesin pendingin yang telah memang mampu untuk memberikan udara sejuk ruangan dalam waktu yang cepat. Untuk dapat mengetahui berapa cepat air conditioner tersebut mampu untuk mendinginkan ruangan, maka cukup dengan melihat evaporator pendingin yang ada pada bagian samping mesin pendingin tersebut. Semakin besar ukuran evaporator pendingin, maka ac tersebut akan mampu untuk mendinginkan suatu ruangan dengan lebih cepat secara alami dan seimbang.
    Perhatikan bagian kipas mesin pendingin tersebut. Jika pada mesin pendingin tersebut kipas digunakan bentuk nya besar, maka angin yang berhembus akan kencang. Dan ini akan dapat membuat ruang akan makin cepat dingin. Selain itu, jika kipas mesin pendingin tersebut besar dan juga lebar, maka air conditioner tersebut tidak akan menimbulkan suara yang berisik. Kipas yang besar ini juga tergantung pada evaporator. Semakin lebar dan besar evaporator sebuah mesin pendingin, maka secara otomatis kipas pada bagian blower akan lebih besar. Karena hal ini juga berhubungan dengan masalah keseimbangan. Namun jika ingin mendapatkan ac dengan kualitas yang terbaik, ada baik nya jika kipas tersebut bentuk seperti gerigi, sehingga akan dapat menyebabkan turbulansi akan menjadi tidak berisik.
    Coba pertimbangkan fitur-fitur lain yang berhubungan dengan kesehatan. Sekarang banyak produk air conditioner yang diciptakan dengan fitur-fitur tambahan yang berhubungan dengan kesehatan seperti mampu untuk membasmi kuman. Selain itu ada juga produk mesin pendingin yang dibuat dengan fitur yang mampu untuk menghilangkan bakteri. Ada juga produk ac yang mampu sebagai filter penyaring debu dan menghilangkan bau tidak sedap. Bahkan ada yang memproduksi air conditioner dengan fitur vitamin c di dalamnya yang juga mengandung antioksidan sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan tubuh menjadi lebih sehat dan bugar.

Sekian informasi mengenai tips trik dalam memilih ac yang baik dan benar, semoga tips ini dapat berguna untuk semua ketika ingin membeli produk air conditioner


Editor : Dian Sukmawati

PT Perkebunan Nusantara IX selama beberapa tahun terakhir terus mengembangkan dan mengelola sejumlah perkebunan di wilayah Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu destinasi pariwisata dalam bentuk wisata agro.

BREBES, Saco-Indonesia - PT Perkebunan Nusantara IX selama beberapa tahun terakhir terus mengembangkan dan mengelola sejumlah perkebunan di wilayah Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu destinasi pariwisata dalam bentuk wisata agro. Selain Kampoeng Kopi Banaran di Bawen dan Ambarawa, saat ini pengembangan wisata agro Kebun Kaligua di Brebes dan Kebun Semugih di Pemalang juga terus ditingkatkan.

Direktur Utama PTPN IX Adi Prasongko mengatakan, pengembangan wisata agro dilakukan karena sejak 2005 bisnis wisata agro sangat menguntungkan PTPN. ”Karena menguntungkan, kami sudah tidak ragu lagi. Bahkan, ke depan wisata agro tak lagi diolah administratur, tetapi akan dikelola profesional dengan struktur sendiri,” ujarnya, Sabtu (1/6/2013), di Kebun Kaligua, Brebes. Jajaran direksi PTPN IX beserta Bupati Brebes menghadiri rangkaian acara Hari Ulang Tahun Ke-42 Pengolahan Teh Hitam di Kebun Kaligua.

Wisata agro Kebun Kaligua dan Kebun Semugih berada di kawasan perkebunan teh yang telah ada sejak zaman Belanda. Kebun Kaligua merupakan perkebunan teh di barat Gunung Slamet di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes. Kebun Semugih, perkebunan teh yang berada di lereng utara Gunung Slamet, berlokasi di Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Pemalang.

Sebagai bentuk keseriusan PTPN IX dalam mengembangkan wisata agro, di kedua kebun itu sedang dibangun mikrohidro atau pembangkit listrik dengan menggunakan tenaga air. Selain itu, dilakukan juga pembenahan dan pembangunan sarana penginapan yang lebih nyaman bagi wisatawan serta penambahan wahana permainan untuk menarik perhatian wisatawan, terutama anak-anak.

”Untuk informasi ke luar, kami akan membenahi website sehingga wisatawan yang ingin menikmati wisata alam mendapat informasi. Kami juga ingin menarik minat para fotografer, termasuk fotografer dunia, bahwa di sini ada obyek menarik yang layak difoto,” ujar Adi.

PTPN IX juga akan mengarahkan wisata agro pada generasi muda, terutama anak-anak, dalam bentuk edukasi. Ada rencana memadukan pariwisata panorama dengan industri yang ada, seperti pabrik teh. ”Jadi, pengelolaan teh bisa diketahui masyarakat umum,” ungkapnya.

Bupati Brebes Idza Priyanti mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Brebes mendukung upaya PTPN IX menjadikan Kebun Kaligua sebagai tempat wisata agro. Untuk saat ini, Pemkab akan membantu pemeliharaan jalan-jalan di desa yang menuju Kebun Kaligua.

”Sementara ini pemeliharaan dulu karena masih pembangunan mikrohidro. Harapan saya, APBD 2014 bisa alokasikan untuk membangun jalan di sini. Yang jelas, kami akan memperhatikan hal ini karena mendukung pariwisata,” paparnya.

Kebun Kaligua menawarkan panorama alam berupa hamparan kebun teh seluas 509 hektar. Di kebun ini, para wisatawan dapat mengunjungi pabrik pengolahan teh hitam. Kebun Semugih menawarkan pemandangan, pemetikan, budidaya, dan pengolahan teh. (son)

 

Sumber : Kompas Cetak/Kompas.com
Editor :Liwon Maulana

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

As governor, Mr. Walker alienated Republicans and his fellow Democrats, particularly the Democratic powerhouse Richard J. Daley, the mayor of Chicago.

Artikel lainnya »