Jual Sparepart Genset Cummins di Sinjai Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Cummins di Sinjai Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Cummins di Sinjai

Jual Sparepart Genset Cummins di Sinjai

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Cummins di Sinjai | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual GENSET CUMMIS 1500KVA bergaransi dan berkualitas di Pati

Jual GENSET CUMMIS 1500KVA bergaransi dan berkualitas di Pati Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual GENSET CUMMIS 1500KVA bergaransi dan berkualitas di Pati

Saco-Indonesia.com — Pada umumnya perempuan Asia terlahir dengan hidung yang bisa dibilang tak terlalu bangir alias pesek, yang menyebabkan kebanyakan dari kita berlomba-lomba memancungkannya lewat bedah kosmetika.

Saco-Indonesia.com — Pada umumnya perempuan Asia terlahir dengan hidung yang bisa dibilang tak terlalu bangir alias pesek, yang menyebabkan kebanyakan dari kita berlomba-lomba memancungkannya lewat bedah kosmetika.

Perempuan Korea, China, dan Thailand paling terkenal gemar “memugar” wajah demi mencapai kesempurnaan fisik. Bahkan kabarnya, kebiasaan ini sudah dimulai saat usia mereka menginjak 17 tahun. Bagi mereka, operasi plastik tidak lagi dipandang sebagai tren ekstrem, melainkan sudah menjadi kebutuhan.

Seperti dikutip dari DailyMail, sekarang bentuk hidung seperti menara Eiffel sedang digandrungi para perempuan China. Menurut mereka, bentuk hidung seperti itu dapat mencurahkan rezeki.

Dibandingkan perempuan pekerja, ternyata jumlah pasien untuk bedah kosmetik hidung menara Eiffel ini didominasi dari kalangan mahasiswi. Tujuannya supaya lebih mudah memperoleh pekerjaan kelak jika mereka lulus kuliah!

Apa pasalnya? Ternyata salah satu syarat tak tertulis bagi perempuan dalam melamar kerja adalah harus memiliki paras cantik dan penampilan yang menarik. Nah, mayoritas calon pekerja yang lulus seleksi, menurut data statistik yang diperoleh dari sebuah sumber anonim, mengatakan bahwa mereka yang memiliki hidung seperti perempuan Eropa-lah yang memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan.

Maka, saat ini semakin banyak klinik kecantikan yang menawarkan prosedur operasi hidung menara Eiffel. Salah satunya adalah klinik Wang Xumings “Eiffel Tower”.

“Keindahan menara Eiffel menginspirasi kami, prosedur ini tidak menambahkan formula apa pun pada hidung dan wajah, tapi kami merekonstruksinya supaya lebih memikat sesuai pilihan pasien,” ujar Dokter Bedah Wang Xuming.

Masih menurut Dokter Wang, tekanan menjadi pengangguran di masa resesi seperti sekarang dan jumlah pengangguran yang tinggi sangat memengaruhi kepercayaan diri banyak mahasiswi. Namun, mereka yang beruntung memiliki wajah cantik, apalagi bila mirip-mirip perempuan Eropa, tak perlu khawatir, karena lebih cepat mendapatkan kerja. Kenyataan seperti inilah yang kemudian menumbuhkan obsesi perempuan untuk mengubah wajah alamiah dengan wajah artifisial.

Biaya yang diperlukan untuk memiliki hidung menara Eiffel relatif lebih mahal, yakni 7.400 euro atau senilai dengan Rp 240 jutaan. Meskipun begitu, pasien perempuan yang ingin melakukan pembedahan terus meningkat jumlahnya.

 

Sumber :Daily Mail/kompas.com

 

Editor : Maulana Lee

Saco-Indonesia.com - Akar tumbuhan ini sangat banyak manfaatnya dia adalah kunyit adalah salah satu jenis rempah-rempah yang familiar digunakan dalam banyak masakan di Indonesia.

Saco-Indonesia.com - Akar tumbuhan ini sangat banyak manfaatnya dia adalah kunyit adalah salah satu jenis rempah-rempah yang familiar digunakan dalam banyak masakan di Indonesia. Sejak berabad-abad lalu kunyit dikenal sebagai salah satu tanaman obat yang populer untuk mengobati dan mencegah berbagai macam penyakit. Hal ini disebabkan karena adanya kandungan kurkumin di dalam kunyit.

Berikut adalah manfaat menyehatkan dari kunyit yang harus Anda ketahui seperti dilansir dari magforwomen.com.

Meningkatkan kekebalan tubuh
Kurkumin yang ada di dalam kunyit adalah salah satu zat anti oksidan yang kuat. Zat ini mampu mencegah radikal bebas yang mengganggu sistem DNA.

Menurunkan kolesterol
selain kaya akan zat anti oksidan, kunyit juga efektif untuk menurunkan LDL atau kolesterol buruk dalam darah

Meningkatkan kesehatan jantung
Kandungan berbagai macam vitamin dan mineral seperti potasium dan zat besi di dalam kunit diperlukan untuk membangun sel darah merah. Sedangkan kalium di dalamnya mampu untuk mengontrol tekanan darah dan denyut jantung.

Menyehatkan pencernaan
Sekali lagi, kandungan kurkumin di dalam kunyit baik untuk membunuh bakteri jahat di dalam perut sehingga mampu menyehatkan pencernaan Anda.

Mampu digunakan untuk mengencerkan darah
Kunyit memiliki sifat pengencer darah. Oleh karena itu bagi Anda yang sedang merencanakan untuk melakukan operasi, sebaiknya Anda menghindari mengonsumsi kunyit

Mengobati asma
Satu sendok bubuk kunyit yang dicampur dengan segelas susu hangat efektif untuk mengobati asma, flu, pilek, dan batuk.

Kunyit adalah tanaman obat yang cukup populer di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa kesehatan pun dapat ditingkatkan dengan terus mengonsumsi tanaman obat nan alami.

Editor : Maulana Lee

Sumber : Merdeka.com

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Ms. Crough played the youngest daughter on the hit ’70s sitcom starring David Cassidy and Shirley Jones.

Artikel lainnya »