Jual Sparepart Genset Cummins Murah di Lombok Timur Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Cummins Murah di Lombok Timur Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Cummins Murah di Lombok Timur

Jual Sparepart Genset Cummins Murah di Lombok Timur

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Sparepart Genset Cummins Murah di Lombok Timur | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual sparepart genset lovol untuk semua kapasitas di Manggarai Barat

Jual sparepart genset lovol untuk semua kapasitas di Manggarai Barat Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual sparepart genset lovol untuk semua kapasitas di Manggarai Barat

Selama ini minyak ikan sudah diketahui baik untuk kesehatan otak. Namun penelitian terbaru yang dipublikasikan Januari 2014 kemarin telah mengungkap bahwa minyak ikan tak hanya menyehatkan otak saja tetapi juga mencegah terjadinya penciutan volume otak.

Selama ini minyak ikan sudah diketahui baik untuk kesehatan otak. Namun penelitian terbaru yang dipublikasikan Januari 2014 kemarin telah mengungkap bahwa minyak ikan tak hanya menyehatkan otak saja tetapi juga mencegah terjadinya penciutan volume otak.

Ketika usia bertambah, volume otak biasanya akan menciut. Namun penciutan otak juga bisa menandakan penyakit yang berkaitan dengan kesehatan mental, atau penyakit otak seperti Alzheimer dan lainnya. Dengan begitu hasil penelitian ini telah menunjukkan harapan bahwa minyak ikan bisa mencegah penciutan otak terkait penyakit tersebut.

Hasil ini didapatkan peneliti setelah melakukan penelitian selama delapan tahun. Mereka juga melakukan scan MRI pada 1.111 wanita yang sudah lanjut usia. Selain itu peneliti juga mengukur jumlah asam lemak omega-3 pada sel darah merah mereka. Setelah delapan tahun, peneliti kemudian mengukur volume otak partisipan yang sudah berusia 78 tahun.

Mereka menemukan bahwa wanita yang telah memiliki tingkat omega-3 tinggi juga memiliki volume otak yang lebih besar setelah delapan tahun. Tingkat asam lemak omega-3 yang tinggi bisa didapatkan melalui diet atau suplemen. Efeknya dalam beberapa waktu bisa mencegah kematian beberapa sel otak yang disebabkan usia, ungkap ketua peneliti James V Pottala.

Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa mengonsumsi banyak asam lemak omega tiga berkaitan dengan volume hippocampus otak yang lebih besar hingga 2,7 persen. Bagian otak tersebut berkaitan dengan kemampuan seseorang mengingat.

Asam lemak omega-3 banyak didapatkan dari minyak ikan. Jadi jangan ragu untuk dapat mengonsumsi suplemen atau minyak ikan untuk memenuhi asupan omega-3 dan mencegah penciutan pada otak Anda.

saco-indonesia.com, PT XL Axiata masih harus mengandalkan layanan data untuk dapat mendongkrak pendapatan tahun lalu. Layanan da

saco-indonesia.com, PT XL Axiata masih harus mengandalkan layanan data untuk dapat mendongkrak pendapatan tahun lalu. Layanan data XL telah memberikan kontribusi bagi pendapatan XL sebesar 23 persen dan tumbuh hingga 142 persen.

Pada 2012, layanan data XL hanya telah memberikan kontribusi bagi total pendapatan sebesar 20 persen. Saat ini total pelanggan data telah mencapai 33 juta pelanggan atau sekitar 54 persen dari total pelanggan XL.

Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi juga mengatakan pihaknya telah kembali berupaya untuk dapat menyiapkan yang terbaik kepada pelanggan dengan menyediakan layanan telekomunikasi selular terbaik terutama di data.

"XL sebagai salah satu pemimpin dalam mobile data telah menunjukkan kemampuan dan komitmennya dalam memberikan layanan data yang unggul kepada pelanggan," katanya, Kamis (6/2).

Sejumlah layanan data memang telah menjadi andalan anak usaha Axiata Berhad itu. Melalui kerja sama dengan Google, XL telah menawarkan Rumah Android untuk pengguna Android.

Android Starter Pack telah memberikan masa aktivasi kartu SIM yang lebih lama dan beragam aplikasi untuk dapat memberi kemudahan dan mendorong penggunaan mobile data.

Selain itu, XL meluncurkan XL BEBAS dengan tujuan untuk dapat meningkatkan layanan data yang terjangkau dan dapat menarik pengguna layanan data baru.

XL berkolaborasi dengan beragam aplikasi seperti KakaoTalk, Facebook dan WeChat di 2013 untuk dapat memperkuat posisi XL di komunitas jejaring sosial.

Hasnul melanjutkan selama 2013, smartphone telah tumbuh secara signifikan sebesar 21 persen dibandingkan dengan tahun lalu telah mencapai 10,2 juta pelanggan atau 17 persen dari total pelanggan.

Sesuai dengan strategi XL untuk tetap fokus dalam investasi pada jaringan infrastruktur layanan data, XL kembali melakukan ekspansi di infrastruktur jaringan data dengan menambah Node B dan BTS 2G diseluruh Indonesia.

XL juga telah memiliki 15.068 Node B, meningkat 15 persen dari tahun lalu. Total BTS 2G dan 3G sebanyak 44.946 BTS. XL kembali berupaya untuk dapat meningkatkan jaringan melalui modernisasi jaringan 2G dan 3G di mayoritas wilayah diseluruh Indonesia, dimana modernisasi ini akan dapat memberikan kecepatan jaringan yang lebih baik, kapasitas dan efisiensi energi.

Selain itu, produk-produk inovatif dan berbagai penawaran dikenalkan untuk dapat mengurangi penurunan dari layanan Suara dan SMS. Beragam produk tersebut seperti XLKu, SERBU, SMS Rp1 dan LINE SMS sticker untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan meningkatkan penggunaan dari layanan Suara dan SMS dari tahun lalu.

"Upaya untuk dapat meningkatkan posisi kita dan kecermatan eksekusi membuat XL dapat meningkatkan momentum operasionalnya dan mencatat pertumbuhan pelanggan sebesar 32 persen dan mengakhiri tahun 2013 dengan 60,5 juta pelanggan," katanya.


Editor : Dian Sukmawati

Ms. Turner and her twin sister founded the Love Kitchen in 1986 in a church basement in Knoxville, Tenn., and it continues to provide clothing and meals.

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Artikel lainnya »