Sparpart genset murah genset perkins genset foton genset cummins murah genset lovol 100 kva harga

Jual Genset Perkins Murah di Kotawaringin Timur Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Genset Perkins Murah di Kotawaringin Timur Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Genset Perkins Murah di Kotawaringin Timur

Jual Genset Perkins Murah di Kotawaringin Timur

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Genset Perkins Murah di Kotawaringin Timur | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual Sparepart genset LOVOL OPEN DAN SILENT KAP 45KVA -175KVA Murah di Pontianak

Jual Sparepart genset LOVOL OPEN DAN SILENT KAP 45KVA -175KVA Murah di Pontianak Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual Sparepart genset LOVOL OPEN DAN SILENT KAP 45KVA -175KVA Murah di Pontianak

Meski saat ini sudah banyak buku-buku digital, buku konvensional tak lantas kehilangan peminat. Sebagian besar menyukai buku kon

Meski saat ini sudah banyak buku-buku digital, buku konvensional tak lantas kehilangan peminat. Sebagian besar menyukai buku konvensional, dengan kertas yang nyata, bau yang khas serta ilustrasi yang indah, bukan teks digital yang tersimpan dalam ebook reader nan pipih.
Karena itu, usaha jual beli buku bekas masih memiliki pasar tersendiri yang lumayan prospektif  jika ditekuni.  Asalkan Anda gemar membaca dan menyukai buku, menjalankan usaha jual buku bekas bisa jadi ladang pencaharian sekaligus hobi yang menghasilkan uang.
Untuk memulai usaha jual buku bekas, Anda harus memahami kebutuhan pasar.  Ada yang membeli buku bekas karena murahnya, namun tidak sedikit yang bersedia membayar mahal buat sebuah buku bekas yang usang, asal ada nilai sejarahnya. Untuk itu lah Anda harus memahami produk yang Anda jual sekaligus pasar yang Anda sasar. Menetapkan tujuan merupakan dasar paling penting dalam bisnis apapun, tidak terkecuali jual beli buku bekas.

Apabila Anda memutuskan untuk membuka usaha jual buku bekas untuk memenuhi kebutuhan pasar akan buku murah, maka sebaiknya Anda menghubungi penerbit. Setiap tahunnya, selalu ada buku-buku yang harus dilepas penerbit dengan harga sangat murah akibat terbatasnya gudang penyimpanan. Biasanya penerbit mendapatkan buku-buku retur dari toko buku. Penerbit besar biasanya menerima buku retur dalam jangka waktu 3-6 bulan. Karena itu, periksa kapan jadwal penerbit menerima returan atau kembalian buku-buku mereka. Harganya bisa 25- 30% saja dari harga bandrol. Jadi Anda bisa menjualnya kembali dengan diskon 40-50% dan masih mendapatkan untung.
Mau lebih murah? Beli saja sekaligus dalam jumlah banyak. Yusuf Agency, misalnya, selalu sukses dengan gelaran buku murah di setiap bazaar dan pameran buku akibat strategi ini. Mereka biasa membeli buku dalam jumlah sangat besar, misalnya 1 truk, yang kemudian dijual eceran dengan murah kepada masyarakat. Strategi ini membutuhkan dana tidak sedikit. Namun jika Anda punya modal lumayan, sebaiknya coba cara ini.
Anda juga bisa menghubungi sekolah atau perusahaan-perusahaan. Biasanya mereka juga mendaurulang koleksi buku perpustakaan. Cara lain, hubungi orang-orang yang pindah tempat tinggal ke luar negeri. Misalnya ekspatriat yang sudah habis masa kerjanya di Indonesia dan kembali ke negara asal. Buku-buku koleksi mereka biasanya ditinggalkan begitu saja. Lumayan kan buat koleksi awal jasa jual buku bekas?

Saco-Indonesia.com - Kini Koneksi internet bukan hanya membuat perangkat elektronik rumahan semacam TV dan kulkas menjadi "pintar", tapi juga mengekspos alat-alat tersebut pada segala macam ancaman cyber.

Saco-Indonesia.com - Kini Koneksi internet bukan hanya membuat perangkat elektronik rumahan semacam TV dan kulkas menjadi "pintar", tapi juga mengekspos alat-alat tersebut pada segala macam ancaman cyber.

Kelemahan itu ternyata sudah mulai dimanfaatkan oleh peretas. Laporan firma kemananan Proofpoint yang dikutip oleh TechCrunch menyebutkan bahwa lebih dari 100.000 perangkat yang memiliki sambungan internet (termasuk router, multimedia center, smart TV, dan kulkas) telah menjadi korban hacker antara akhir Desember 2013 hingga awal Januari 2013.

Perangkat-perangkat malang tersebut diserang oleh botnet yang membuat mereka menjadi "zombie" untuk melancarkan serangan spamming e-mail. Sasarannya adalah berbagai perusahaan dan invididu di seluruh dunia. E-mail spam dikirim secara bergelombang, tiga kali sehari, tiap-tiapnya mengirimkan 100.000 surat elektronik.

"Botnet sudah menjadi masalah keamanan besar, dan munculnya hal ini membuatnya bertambah gawat," ujar David Knight dari Proofpoint. "Banyak dari perangkat ini tak dilindungi dengan baik dan pengguna tak punya cara untuk mendeteksi atau memperbaiki infeksi yang terjadi."

Celah baru

TV, kulkas, dan peralatan lain-lain yang memiliki koneksi internet adalah bagian dari konsep "Internet of Everything" di mana semua perangkat elektronik di kehidupan manusia dengan jaringan global itu.

Di tengah semakin banyaknya produsen elektronik yang menelurkan perangkat-perangkat semacam ini, masalah baru muncul karena alat macam TV dan kulkas "pintar" memberi celah baru bagi hacker untuk menyusupi rumah seseorang atau melancarkan serangan cyber.

Sejumlah model smart TV, misalnya, dilengkapi dengan webcam yang bisa diambil alih oleh hacker. Perangkat-perangkat elektronik rumah tangga ini pun lebih rentan serangan dibanding PC atau gadget mobile karena produsennya relatif jarang menyalurkan update sekuriti.

Dukungan software terhadap alat-alat tersebut juga diragukan apabila telah berumur bertahun-tahun. Terlebih, alat seperti TV dan kulkas bukanlah perangkat yang sering diganti. Ini berbeda dengan platform PC dan gadget mobile yang "dijaga ketat" dalam hal keamanan oleh pemilik platform masing-masing.

 

Sumber: TechCrunch/kompa.com
Editor : Maulana Lee

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

A lapsed seminarian, Mr. Chambers succeeded Saul Alinsky as leader of the social justice umbrella group Industrial Areas Foundation.

Artikel lainnya »