genset perkins genset foton genset cummins murah
jual ECM perkins agen ECM perkins distributor ECM perkins toko ECM perkins seting ECM perkins

Jual Genset Foton di Pegunungan Bintang Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Genset Foton di Pegunungan Bintang Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Genset Foton di Pegunungan Bintang

Jual Genset Foton di Pegunungan Bintang

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Genset Foton di Pegunungan Bintang | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual sparepart genset lovol untuk semua kapasitas bergaransi dan berkualitas di Kepulauan Yapen

Jual sparepart genset lovol untuk semua kapasitas bergaransi dan berkualitas di Kepulauan Yapen Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual sparepart genset lovol untuk semua kapasitas bergaransi dan berkualitas di Kepulauan Yapen

Ratusan dokter dari seluruh Indonesia menggelar demonstrasi di depan Istana Merdeka, Senin (20/5/2013).

JAKARTA, Saco- Indonesia.com -  Ratusan dokter dari seluruh Indonesia menggelar demonstrasi di depan Istana Merdeka, Senin (20/5/2013). Mereka memrotes kebijakan kesehatan yang belum menyeluruh. Presidium Dokter Indonesia Bersatu, Agung Sapta Adi, mengatakan pihaknya berharap ada reformasi kesehatan nasional yang berkeadilan.

"Idealnya, anggaran kesehatan 5 persen dari APBN dan 10 persen dari APBD sesuai UU Kesehatan Nomor 36 Tahuun 2009. Tapi sekarang belum terjadi," katanya.

Biaya kesehatan yang mahal seharusnya bisa disiasati kalau ada perencanaan dan alokasi dana dan fasilitas yang tepat sasaran. Cukai rokok seharusnya juga bisa dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan sebagai kompensasi dampak rokok bagi kesehatan.
Editor :Liwon Maulana(galipat)
Sumber:Kompas.com

Banyak sekali pengemudi mobil yang telah melengkapi mobil Toyotanya dengan lampu HID agar lebih terang maupun enak dipandang mat

Banyak sekali pengemudi mobil yang telah melengkapi mobil Toyotanya dengan lampu HID agar lebih terang maupun enak dipandang mata karena sorot cahayanya yang berwarna putih. Dan masih banyak juga yang masih binggung ataupun bimbang di dalam memilih HID yang tepat untuk mobilnya. Kali ini, kita akan membahas lebih dalam tentang bohlam HID beserta kelebihan dan kekurangan lampu HID itu sendiri agar tidak terjebak maupun ragu-ragu ketika memutuskan untuk menggunakan bohlam HID sebagai pilihan utama untuk penyinaran mobilnya.

Pengertian Lampu HID

HID sendiri telah memiliki kepanjangan, yaitu High Intensity Discharge atau yang lebih dikenal dengan lampu Xenon yang mampu untuk menghasilkan cahaya dengan tingkat intensitas yang tinggi alias lebih terang. Untuk tingkat keterangan warna dari lampu HID ditentukan oleh satuan derajat Kelvin (K) dan untuk menyalakan lampu HID diperlukan ballast, yang juga merupakan alat untuk menyediakan dan mengendalikan voltase lampu termasuk juga untuk dapat menstabilkan aliran listrik pada mobil.

Saat ini, sudah sangat banyak sekali lampu HID dengan berbagai merk atau tipe dengan kualitas yang berbeda-beda, produksi dan tentu saja berbeda harga. Karena banyak merk dan kualitas serta janji-janji yang telah ditawarkan, kita juga harus jeli di dalam memilih lampu HID untuk diaplikasikan pada kendaraan kita.

Untuk jenis atau tipe lampu HID yang beredar dipasaran, umumnya telah terdiri dari lampu-lampu model H1,H3,H4,H7,H8,H11,HB3,HB4. Yang telah membedakan antara kode H tersebut adalah pada kedudukan bohlamnya di headlamp mobil kita, sedangkan untuk ballast dapat dikatakan sama semuanya bentuknya (Ingat, sama bentuk belum tentu sama kualitasnya) Model yang paling umum beredar di Indonesia adalah tipe H4 dimana antara lampu jauh dengan lampu dekat menjadi satu.

Warna Cahaya Lampu HID

Lampu HID telah memiliki beberapa tingkatan warna yang dihasilkan berdasarkan perbedaan Kelvin, dan berikut ini adalah daftar warna Lampu HID yang terdapat di pasaran :

    3.500 K mengeluarkan warna Kuning seperti bohlam lampu standart mobil

    4.300 K / 5.000 K mengeluarkan warna putih kekuning-kuning an

    6.000 K / 6.500 K mengeluarkan warna Putih

    8.000 K/ 8.500 K mengeluarkan warna Putih kebiru-biru an

    10.000 K mengeluarkan warna Biru agak keungu-ungu an

    12.700 K mengeluarkan warna Ungu

    15.000 K mengeluarkan warna Pink

Warna lampu HID mobil

Warna Lampu HID

Dari daftar warna di atas, kita juga dapat mengetahui bahwa semakin tinggi Kelvin maka akan mengalami gradasi warna menuju kebiru-biruan ataupun ungu. Hal yang paling penting untuk diingat adalah ketika pemasangan lampu HID selalu pastikan bahwa lampu yang terpasang adalah dengan ukuran 35 watt, jangan memasang yang 50 watt (tidak compatible) karena akan membuat mika head lamp menjadi cepat kuning akibat panas yang berlebihan.

Kelebihan dan Kelemahan lampu HID

Apabila membahas penggunaan lampu HID, maka kelebihan yang telah ditawarkan dari lampu ini (menurut saya) adalah gaya. Tentu sangat enak dilihat ketika melihat cahaya lampu putih yang keluar dari head lamp mobil TETAPI hal ini seringkali menyengsarakan saya sebagai pengemudi ketika di depan mobil yang menggunakan lampu HID.

Pilihan yang paling tepat di dalam menggunakan lampu HID adalah yang 4.300 K, dimana Toyota Fortuner, Alphard maupun mobil premium Toyota lainnya juga sudah menggunakan lampu HID sebagai standart bawaan mobil. Dan batas tolerir yang masih saya anggap menguntungkan adalah pemakaian lampu HID 5.000 / 5.300 K, dimana cahaya yang dikeluarkan masih putih kekuning-kuningan.

Kelemahan lampu HID juga sangat terlihat untuk lampu HID diatas 5.300 Kelvin tentu saja lampu HID yang dipasang lebih diperuntukan untuk mobil-mobil show off ataupun pameran karena cahaya lampu yang dihasilkan tidak dapat menembus hujan maupun kabut. Hal ini tentu saja telah menyusahkan pengemudi yang memiliki mobilitas tinggi di luar-luar daerah. Dari segi fungsional, lampu-lampu HID yang berada di atas 5.300 K seringkali membuat pengemudi mengeluhkan bahwa sorot cahaya lampunya sama sekali tidak membantu di tengah malam berkabut ataupun hujan sekalipun, dan hal ini juga sangat membahayakan kita sebagai pengendara mobil.

Pertanyaan yang paling sering diajukan kepada saya adalah, " Merk apa yang bagus untuk lampu HID ?"

Jujur, penilaian yang bisa saya berikan tentu saja, "ada harga tentu ada kualitas."Setelah mencoba-coba berbagai macam HID dan mencari fakta tentang lampu HID yang beredar di pasaran, ternyata hampir sebagian besar HID adalah produk China dengan embel-embel lisensi negara-negara maju seperti german, usa, dll.

Yang telah membedakan produk mahal dan murah adalah kualitas ballast dan kualitas bohlam lampu HID itu sendiri. Produk yang terlampau murah seringkali ballast cepat mengalami kerusakan sehingga lampu HID mati dalam waktu dekat, memang semua HID rata-rata telah memberikan garansi tetapi bila mengalami mati lampu di malam hari dan harus bolak balik untuk klaim pemasangan, bukankah itu merepotkan ? Kualitas bohlam juga mempengaruhi karena seringkali lampu HID berubah derajat Kelvin nya setelah pemakaian dalam beberapa bulan sehingga cahaya yang dikeluarkan oleh lampu HID menjadi tidak sama dengan pemasangan pertama kali.

Setelah membahas kelemahan dan kelebihan lampu HID, semoga teman-teman sekalian tidak merasa kebinggungan di dalam menentukan apakah perlu menggunakan HID atau tidak, dan lampu HID apa yang sebaiknya digunakan di mobil toyota kesayangannya. Sebenarnya pemasangan aksesoris pada mobil baru yang kita miliki menyebabkan beberapa kekurangan yang mungkin saja dapat berakibat fatal. (baca : kekurangan aksesoris mobil baru)

BEIJING (AP) — The head of Taiwan's Nationalists reaffirmed the party's support for eventual unification with the mainland when he met Monday with Chinese President Xi Jinping as part of continuing rapprochement between the former bitter enemies.

Nationalist Party Chairman Eric Chu, a likely presidential candidate next year, also affirmed Taiwan's desire to join the proposed Chinese-led Asian Infrastructure Investment Bank during the meeting in Beijing. China claims Taiwan as its own territory and doesn't want the island to join using a name that might imply it is an independent country.

Chu's comments during his meeting with Xi were carried live on Hong Kong-based broadcaster Phoenix Television.

The Nationalists were driven to Taiwan by Mao Zedong's Communists during the Chinese civil war in 1949, leading to decades of hostility between the sides. Chu, who took over as party leader in January, is the third Nationalist chairman to visit the mainland and the first since 2009.

Relations between the communist-ruled mainland and the self-governing democratic island of Taiwan began to warm in the 1990s, partly out of their common opposition to Taiwan's formal independence from China, a position advocated by the island's Democratic Progressive Party.

Despite increasingly close economic ties, the prospect of political unification has grown increasingly unpopular on Taiwan, especially with younger voters. Opposition to the Nationalists' pro-China policies was seen as a driver behind heavy local electoral defeats for the party last year that led to Taiwanese President Ma Ying-jeou resigning as party chairman.

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Artikel lainnya »