Jual Genset Foton di Bolaang Mongondow Selatan Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Genset Foton di Bolaang Mongondow Selatan Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Genset Foton di Bolaang Mongondow Selatan

Jual Genset Foton di Bolaang Mongondow Selatan

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Genset Foton di Bolaang Mongondow Selatan | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

genset perkins CHINA/LOVOL Kap 170 kva Prime power type 1106C-P6TAG4 bergaransi dan berkualitas di Lumajang

genset perkins CHINA/LOVOL Kap 170 kva Prime power type 1106C-P6TAG4 bergaransi dan berkualitas di Lumajang Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). genset perkins CHINA/LOVOL Kap 170 kva Prime power type 1106C-P6TAG4 bergaransi dan berkualitas di Lumajang

   HADIST TENTANG REJEKI 1. Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat,

   HADIST TENTANG REJEKI

1. Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

2. Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaikimata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar dan Al Hakim)

3. Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)

4. Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)

5. Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)

6. Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami)

7. Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak. (Mutafaq’alaih)

8. Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri. (HR. Bukhari)

9. Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka hendaklah dia melestarikannya. (HR. Al-Baihaqi)

Keterangan:

Yakni senantiasa bersungguh-sungguh dan konsentrasi di bidang usaha tersebut, serta jangan suka berpindah-pindah ke pintu-pintu rezeki lain atau berpindah-pindah usaha karena di khawatirkan pintu rezeki yang sudah jelas dibukakan tersebut menjadi hilang dari genggaman karena kesibukkan nya mengurus usaha yang lain. Seandainya memang mampu maka hal tersebut tidak mengapa.

10. Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki. (HR. Ath-Thabrani)

11. Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan. (HR. Ath- Thabrani dan Al-Bazzar)

12. Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi hari mereka (bangun fajar). (HR. Ahmad)

13. Barangsiapa menghidupkan lahan mati maka lahan itu untuk dia. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)

Keterangan:

Hal tersebut khusus untuk lahan atau tanah kosong yang tidak ada pemiliknya. Jika lahan atau tanah kosong tersebut ada pemiliknya maka tidak boleh diambil dengan jalan yang bathil.

14. Carilah rezeki di perut bumi. (HR. Abu Ya’la)

15. Pengangguran menyebabkan hati keras (keji dan membeku). (HR. Asysyihaab)

16. Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya. (HR. Aththusi)

17. Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan. (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)

18. Sebaik-baik mata pencaharian ialah hasil keterampilan tangan seorang buruh apabila dia jujur (ikhlas). (HR. Ahmad)

#Devan alfandy#

Pulau Sulawesi terkenal dengan keindahan laut merupakan salah satu Taman Nasional Bunaken terletak di Sulawesi Utara dan berjara

Pulau Sulawesi terkenal dengan keindahan laut merupakan salah satu Taman Nasional Bunaken terletak di Sulawesi Utara dan berjarak ± 8 km dari daratan Kota Manado. Lokasinya cukup strategis untuk membuatnya mudah untuk taman dikunjungi oleh wisatawan baik dari domestik maupun dari luar negeri.Taman Nasional Bunaken merupakan satu-satu tujuan rekreasi bagi wisatawan diminati wisatawan domestik dan asing yang cukup.

Kegiatan yang dapat dilakukan di Taman Nasional Laut Bunaken adalah seperti berjemur di pantai, berenang di laut, menyelam (diving), snorkeling, menjelajahi hutan di sekitar Taman Laut pantai.Secara keseluruhan Taman Nasional memiliki luas wilayah 75.265 hektar di yang terdapat lima pulau, yaitu Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua, Pulau Siladen, Pulau Mantehage bersama dengan beberapa pulau dan anak terakhir Pulau Naen. Meskipun hal ini Taman laut ini memiliki lima pulau yang berdekatan, hanya yang paling terkenal Bunaken Island sebagai tempat menyelam.

Kawasan Park pada tahun 1991 sebagai taman laut nasional yang diresmikan oleh Menteri Kelautan dan berfungsi sebagai objek wisata bahari dan pendidikan serta melihat potensi kegiatan ekologi alam dan konservasi laut daerah ini. Selain kegiatan wisata, taman laut yang sangat baik untuk pengembangan pengetahuan pendidikan orang dewasa dan anak-anak tentang sumber daya alam dan laut.

Taman Nasional Laut Bunaken adalah salah satu taman laut paling indah di dunia, terkenal dengan formasi karang yang sangat indah dan luas. taman laut juga merupakan habitat lebih dari 3000 jenis ikan yang perlu dijaga dari kepunahan, seperti lolosi ikan ekor kuning (Lutjanus kasmira), kuda ikan gusumi (hippocampus kuda), goropa (spilotoceps ephinephelus), OCI putih (seriola rivoliana ) dan banyak orang lain juga telah memiliki keragaman spesies langka organisme air seperti lumba-lumba, sapi laut, dugong-dugong dan juga telah memiliki berbagai jenis ikan hias yang sangat indah.

Taman Nasional Bunaken telah memiliki wilayah yang cukup besar untuk dapat melakukan penyelaman, meskipun masih terbatas hanya lokasi penyelaman di sekitar pantai yang telah mengelilingi kelima pulau, hal ini juga dilakukan untuk keselamatan pengunjung dan untuk memfasilitasi petugas dalam mengawasi para pengunjung pantai.

Pengunjung juga dapat menyelam dan menyaksikan ikan tropis dan terumbu karang yang menakjubkan dan indah sehingga pengunjung dijamin akan kagum melihat dan tidak dapat melupakannya.

Untuk diving, Taman Laut Taman Nasional juga merupakan salah menyelam 10 tempat di dunia yang paling populer.

Ada 20 poin dimana menyelam (dive spot) dengan kedalaman bervariasi hingga 1.344 meter di wilayah taman laut ini. Dari 20 poin menyelam, 12 poin di antaranya di sekitar Pulau Bunaken dan paling sering dikunjungi oleh penyelam dan wisatawan.

Marine fenomena alam yang ada di TN Bunaken adalah unik dan hampir pasti tidak akan ditemukan di taman laut lainnya. Taman laut ini juga telah memiliki keunikkan sebuah dinding karang raksasa yang berdiri vertikal dan melengkung ke atas atau disebut tembok besar air atau dinding gantung. dinding Rock adalah juga sumber mana makanan bagi ikan di perairan sekitar Pulau Bunaken.

Akses ke Taman Laut Nasional Bunaken

Untuk dapat mengunjungi taman ini, pengunjung juga dapat menggunakan perahu motor sewaan berangkat dari pantai di kota teluk Manado terhadap taman laut.

Fasilitas Tersedia

Sekitar lokasi hotel yang tersedia, resort, homestay, kolam renang, restoran, kantor pos, menara, gerbang, speed boat.

Ada juga peralatan menyelam sewa bersama dengan instruktur.

Ketika Terbaik Untuk Kunjungi Taman Nasional Bunaken

Musim terbaik untuk dapat mengunjungi Taman Laut Taman Nasional Mei.-Agust.

Yang Dibawa Persediaan Wajib

Dalam kondisi tertentu diperlukan untuk dapat melindungi diri dari angin laut, perlu untuk membawa baju hangat atau jaket, tutup kepala, syal untuk penghangat leher.

Harus Perhatian

Ada baiknya ketika mereka mengunjungi Taman Laut Taman Nasional dalam kondisi kesehatan keadaan prima.
 

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Hired in 1968, a year before their first season, Mr. Fanning spent 25 years with the team, managing them to their only playoff appearance in Canada.

Artikel lainnya »