Jual Genset Doosan di Tulang Bawang Barat Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Genset Doosan di Tulang Bawang Barat Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Genset Doosan di Tulang Bawang Barat

Jual Genset Doosan di Tulang Bawang Barat

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Genset Doosan di Tulang Bawang Barat | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual Sparepart Genset Cummins 80Kva bergaransi dan berkualitas di Jawa Timur

Jual Sparepart Genset Cummins 80Kva bergaransi dan berkualitas di Jawa Timur Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual Sparepart Genset Cummins 80Kva bergaransi dan berkualitas di Jawa Timur

Honda Motor Company Limited telah memperkenalkan teknologi pengecatan baru yang disebut "Honda Smart Ecological Paint (Hond

Honda Motor Company Limited telah memperkenalkan teknologi pengecatan baru yang disebut "Honda Smart Ecological Paint (Honda SE Paint)". Teknologi ini telah membuat proses pengecatan menjadi lebih hemat dan berlangsung makin cepat dan tentu saja meningkatkan produktivitas. Proses pengecatan ini akan dimanfaatkan untuk pertama kalinya pada pabrik Honda di Yorii, Saitama mulai Juli 2013.

Pada proses normal, setiap unit mobil harus melalui empat tahap pengecatan sebelum dirakit menjadi satu unit. Namun dengan teknologi baru, menjadi tiga. Pasalnya, material baru selain bisa digunakan sebagai car dasar, juga untuk lapisan terakhir eksterior.

Honda juga memperkenalkan robot pengecatan dengan sistem baru. Kelebihannya bisa memangkas efisiensi pengecatan pada proses perakitan mobil. Tidak tanggung-tanggung, jumlah cat yang digunakan bisa dihemat 40 persen. Berarti juga ikut menghemat energi dan menekan emisi karbondioksida. 

Msaco-indonesia.com, Meski intensitas hujan dalam beberapa hari sudah menurun namun nyatanya genangan air juga masih terlihat di

Msaco-indonesia.com, Meski intensitas hujan dalam beberapa hari sudah menurun namun nyatanya genangan air juga masih terlihat di beberapa titik ruas jalan Ibu Kota Jakarta. Seperti yang telah terlihat di Jl Gunung Sahari menuju arah Senen, Jakarta Pusat. Genangan air sekitar 30 cm telah terjadi di jalan tersebut.

Tuti, salah seorang pedagang yang biasa mangkal di jalan itu, juga mengatakan genangan air di jalan tersebut juga biasa terjadi usai turun hujan. Hal itu juga kerap menjadi penyebab kemacetan.

"Biasanya juga begitu. Mungkin gorong-gorongnya juga sudah penuh," ujarnya, di lokasi, Selasa (11/2).

Meski Jakarta adalah ibu kota negara, nyatanya jalan-jalan utama juga masih belum bebas dari banjir jika hujan turun. Walau arus lalu lintas di jalan itu macet, pengendara tetap saja melewati jalan itu.

pengendara sepeda motor mengangkat kakinya agar tak terkena air.


Editor : Dian Sukmawati

A lapsed seminarian, Mr. Chambers succeeded Saul Alinsky as leader of the social justice umbrella group Industrial Areas Foundation.

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Artikel lainnya »