Sparpart genset murah genset perkins genset foton genset cummins murah genset lovol 100 kva harga
JUAL GENSET LOVOL MURAH DI JAKARTA

Jual Genset Doosan di Konawe Utara Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Genset Doosan di Konawe Utara Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Genset Doosan di Konawe Utara

Jual Genset Doosan di Konawe Utara

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Genset Doosan di Konawe Utara | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual GENSET CUMMINS 10 KVA - 1000 KVA Type Open Dan Silent bergaransi dan berkualitas di Yahukimo

Jual GENSET CUMMINS 10 KVA - 1000 KVA Type Open Dan Silent bergaransi dan berkualitas di Yahukimo Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual GENSET CUMMINS 10 KVA - 1000 KVA Type Open Dan Silent bergaransi dan berkualitas di Yahukimo

Orang-orang yang diundang Allah Ta’ala untuk berhaji dan berumrah diberikan kesempatan untuk melihat Rumah Allah, memegang

Orang-orang yang diundang Allah Ta’ala untuk berhaji dan berumrah diberikan kesempatan untuk melihat Rumah Allah, memegangnya atau bahkan menciumnya. Yang telah melihat dan memegang menjadi tahu persis bahwa ukuran rumah Allah Ta’ala tidak besar dan bukan terbuat dari emas. Padahal Dia kuasa untuk membuat rumah dari emas yang membuat manusia terpesona dan berduyun-duyun datang untuk melihatnya.

Rumah itu tidak besar dan bukan terbuat dari emas, namun di hari ini satu-satunya tempat yang tidak pernah sepi dari kunjungan manusia adalah Rumah Allah itu. Secara lahiriah rumah itu sederhana, tetapi secara batiniah rumah itu sangat mewah. Tidak ada yang lebih indah  di sisi Allah melebihi orang bertakwa. Pusaran manusia takwa yang tawaf, shalat atau menatap Ka’bah adalah hiasan termewah bagi Ka’bah. Dan di dasar Ka’bah itu tertanam batu-batu yang disusun oleh tangan orang yang lebih mengutamakan Allah di atas segala sesuatu, Nabi Ibrahim as. Fondasi penyanggah itulah permata terindah bagi Ka’bah.

Sebelum Allah Ta’ala memilih Nabi Ibrahim as menjadi Imam bagi segenap manusia dan memerintahkannya untuk menegakkan kembali fondasi Baitullah, Allah menguji beliau dengan beberapa perintah dan larangan. Dari ujian itu terlihat Ibrahim as lebih mengutamakan Allah swt dibandingkan apa pun juga.

Paling tidak ada tiga ujian besar yang membuktikan hal ini, yaitu: ujian dibakar hidup-hidup, ujian menempatkan keluarga di tempat yang tidak ada air dan kehidupan sama sekali; dan ujian menyembelih puteranya dengan tangannya sendiri.

Ujian pertama, dibakar hidup-hidup.

Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Qishash al-Anbiyâ menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as dilahirkan dan dibesarkan  di Babilonia. Di hari itu hanya ada tiga orang saja yang menyembah Allah swt yaitu: Ibrahim as, istrinya Sarah dan keponakannya Luth.

Orang-orang Babilonia pada waktu itu menyembah patung, bintang, bulan dan matahari. Nabi Ibrahim as mengajak kaumnya untuk meninggalkan sesembahan mereka dan hanya menyembah Allah saja. Kaumnya menolak.

Suatu hari ketika kaumya mengadakan perayaan hari besar agama mereka Ibrahim as menghancurkan berhala-berhala kecil yang ada di dalam kuil mereka dan menyisakan berhala yang terbesar. Ketika mereka kembali ke kuil, mereka mendapati tuhan-tuhan mereka sudah hancur berantakan. Maka tuduhan pun jatuh kepada Ibrahim as karena ia pernah mengancam akan melakukan makar terhadap tuhan-tuhan orang Babilonia itu. Al-Quran menceritakan dialog tersebut:

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, Hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab: “Justru patung yang besar itulah yang melakukannya. Karena itu tanyakan kepada berhala-berhala(yang sudah hancur) itu, jika mereka dapat berbicara”.(QS. Al-Anbiya:62-63)

Terhenyaklah para penyembah berhala itu karena berhala-berhala yang selama ini mereka agungkan bukan saja tidak bisa membela diri bahkan tidak bisa berkata-kata sama sekali.

Bukannya insyaf  bahkan mereka bertambah marah.

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.”(QS.Al-Anbiya: 68)

Maka mereka pun bergegas hendak membakar Nabi Ibrahim as. Di sinilah datang ujian bagi beliau. Hanya ada dua pilihan, yaitu tetap berpegang teguh pada agama tauhid dengan konsekuensi dibakar hidup-hidup. Atau, bebas dari pembakaran asalkan melepaskan agama tauhid. Nabi Ibrahim memilih lebih baik dibakar.

Perlu diketahui bahwa tidak ada jaminan sebelumnya dari Allah bahwa Nabi Ibrahim as tidak mempan di bakar. Banyak Nabi lain yang terbunuh di jalan Allah, seperti Nabi Zakariya as dan Yahya as. Ucapan terakhir dari lisannya adalah ‘Cukup Allah bagiku. Dialah sebaik-baik pelindung’.

Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata,” Ucapan terakhir yang dikatakan oleh Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api adalah:

‘Cukuplah Allah bagiku dan Dia lah sebaik-baik pelindung’ .” (HR. Bukhari)

Datanglah pertolongan Allah swt.

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya: 69)

Allah Ta’ala menyelamatkannya dari api.

Ujian kedua, menempatkan keluarga di tempat yang tidak ada air dan kehidupan sama sekali.

Nabi Ibrahim as diperintahkan Allah swt untuk menempatkan istrinya Hajar dan puteranya Ismail di lembah Makkah yang pada waktu itu tidak ada air dan tumbuhan sama sekali. Resiko pelaksanaan perintah ini adalah kematian istri dan puteranya yang masih bayi itu oleh keganasan alam. Setelah sampai di lembah Makkah, Ibrahim pun bermaksud kembali ke Baitul Maqdis. Ketika akan ditinggalkan Hajar bertanya mengapa Ibrahim as meninggalkan mereka, namun Ibrahim as terus berjalan tanpa menoleh dan tidak dijawab. Akhirnya Hajar bertanya,” Apakah Allah memerintahkannya padamu?” Ibrahim as menjawab,” Ya.” Mendengar jawaban tersebut Hajar berkata,” Kalau begitu pastilah Dia tidak menyia-nyiakan kami.” Lalu Hajar pun menggendong puteranya Isama’il berjalan menuruni lereng menuju perut lembah.

Nabi Ibrahim as terus berjalan, ketika sampai di al-Tsaniyyah, di tempat yang tidak terlihat oleh istrinya Nabi Ibrahim as menghadap ke arah perut lembah Mekkah dan berdoa dengan munajat yang sangat terkenal yang Allah abadikan dalam Surat Ibrahim:

” Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tumbuhan sama sekali di dekat rumah-Mu yang dimuliakan, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rezeki kepada mereka berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. 14:37)

Setelah berdoa dan menyerahkan keluarganya kepada Allah Ta’ala Ibrahim as pun meninggalkan lembah Makkah dan kembali ke Baitul Maqdis, Palestina.

Allah pun menyelamatkan istri dan anaknya.

Ujian ketiga, perintah menyembelih puteranya Ismail dengan tangannya sendiri.

Bila disuruh memilih, lebih baik bagi seorang ayah untuk memotong lehernya sendiri dibandingkan memotong leher anaknya. Kalau pun harus membunuh anak, lebih ringan dengan meminjam tangan orang lain bukan dengan tangan sendiri. Tetapi Allah Ta’ala memerintahkan menyembelih puteranya dengan tangan sendiri.

Ketika isyarat mimpi itu datang, maka Nabi Ibrahim as bertanya kepada puteranya Isma’il yang berumur kira-kira 12 tahun. Al-Quran menceritakan:

Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”(QS. Ash-Shaffat: 102)

Ketika keduanya telah berserah diri kepada Allah, Ismail telah dibaringkan di atas pelipisnya, pisau pun menempel dilehernya, kalau tidak ada pembatalan dari Allah maka anak itu pasti disembelih oleh Ibrahim as. Ketika itulah Allah al-Rahîm membatalkan penyembelihan tersebut.dan menggantikan Ismail dengan seekor kibasy yang besar.

Tiga ujian yang luar biasa! Setelah terlihat betapa Nabi Ibrahim lebih mengutamakan Allah Ta’ala dibandingkan apa pun juga maka Allah memilihnya menjadi pemimpin bagi umat manusia dan memerintahkannya untuk mendirikan kembali Rumah Allah Ta’ala.

Dengan tangan ketakwaannya ia bersama puternya Isma’il as meletakkan fondasi Ka’bah dan menegakkan bangunan Rumah Allah. Sampai hari kiamat nanti batu-batu yang ditanam Ibrahim as di fondasi Ka’bah akan tetap tertancap di sana.

Di sana, Bumi Makkah dan Baitullahnya merekam getaran cinta dan pengorbanan Nabi Ibrahim as yang telah memberikan yang terbaik bagi Allah Ta’ala sebagai bukti ketakwaannya.

Di sini, di hari ini, keadaannya jauh berbeda, kebanyakan kita hanya memberikan ‘sisa-sisa’ untuk Allah, sisa harta, sisa tenaga, sisa waktu, sisa hati dan sisa pikiran padahal Allah swt telah memberikan segala yang terbaik untuk kita. kita bergantung kepada Allah untuk setiap butir nasi yang kita makan, untuk setiap tetes air yang kita minum, untuk setiap desah nafas, untuk setiap detak jantung dan untuk setiap denyut kehidupan.

Setiap kita sedang membangun ketakwaan kepada Allah di dalam hati kita. Rumah yang dibangun dengan puing-puing sisa cepat atau lambat hanya akan menjadi tumpukan puing-puing. Demikian pula ketakwaan yang dibangun dengan puing-puing sisa harta, sisa tenaga, sisa waktu, sisa hati dan sisa fikiran cepat atau lambat hanya kaan menjadi puing-puing ketakwaan. Ketakwaan sejati hanya dapat ditegakkan  dengan ‘mengutamakan Allah di atas segala sesuatu’.

Sumber : http://www.mqtravel.co.id

Baca Artikel Lainnya : MENCIUM HAJAR ASWAD

saco-indonesia.com, Cabang bulu tangkis akhirnya mengikuti jejeak tenis, rugbi dan kriket dengan menggunakan teknologi "hawk- eye," dengan kamera ultra lambat yang memungkinkan pemain melihat kembali jatuhnya kok.

MUMBAI, Saco-Indonesia.com - Cabang bulu tangkis akhirnya mengikuti jejeak tenis, rugbi dan kriket dengan menggunakan teknologi "hawk-eye," dengan kamera ultra lambat yang memungkinkan pemain melihat kembali jatuhnya kok.

Teknologi ini akan mulai di gunakan di ajang Djarum Indonesia Open Super Series Premier, 10-16 Juni di Istora Gelora Bung Karrno, Jakarta. Dengan teknologi ini, pemain yang merasa dirugikan dengan keputusan penjaga garis dapat melihat kembali posisi jatuhnya kok melalui kamera.

Menurut BWF, setiap pemain mendapat hak  melakukan call sebanyak dua kali dalam setiap game. Apabila dua protes tersebut ditolak, ia akan kehilangan hak untuk sisa pertandingan. Sementara apabila diterima, maka ia akan mendapat hak serupa untuk game berikutnya.

"Protes atau keberatan harus dilakukan segera setelah  kok mendarat dan diputuskan oleh penjaga garis. Keberatan itu harus dilakukan sebelum wasit memutuskan melanjutkan pertandingan,"demikian pernyataan tertulis federasi bulu tangkis dunia (BWF).

Pebulu trangkis utama dunia seperti Lee Chong Wei, Taufik Hidayat dan Saina Nehwal memang telah lama mengajukan persetujuan mereka terhadap penggunaan teknologi ini.  Menurut mereka, penggunaan teknologi ini dapat mencegah keputusan penjaga garis yang terkadang merugikan pemain.

Sumber :reuters/Kompas.com
Editor :Maulana Lee

Over the last five years or so, it seemed there was little that Dean G. Skelos, the majority leader of the New York Senate, would not do for his son.

He pressed a powerful real estate executive to provide commissions to his son, a 32-year-old title insurance salesman, according to a federal criminal complaint. He helped get him a job at an environmental company and employed his influence to help the company get government work. He used his office to push natural gas drilling regulations that would have increased his son’s commissions.

He even tried to direct part of a $5.4 billion state budget windfall to fund government contracts that the company was seeking. And when the company was close to securing a storm-water contract from Nassau County, the senator, through an intermediary, pressured the company to pay his son more — or risk having the senator subvert the bid.

The criminal complaint, unsealed on Monday, lays out corruption charges against Senator Skelos and his son, Adam B. Skelos, the latest scandal to seize Albany, and potentially alter its power structure.

Photo
 
Preet Bharara, the United States attorney in Manhattan, discussed the case involving Dean G. Skelos and his son, Adam. Credit Eduardo Munoz/Reuters

The repeated and diverse efforts by Senator Skelos, a Long Island Republican, to use what prosecutors said was his political influence to find work, or at least income, for his son could send both men to federal prison. If they are convicted of all six charges against them, they face up to 20 years in prison for each of four of the six counts and up to 10 years for the remaining two.

Senator Kenneth P. LaValle, of Long Island, who serves as chairman of the Republican conference, emerged from a closed-door meeting Monday night to say that conference members agreed that Mr. Skelos should be benefited the “presumption of innocence,” and would stay in his leadership role.

“The leader has indicated he would like to remain as leader,” said Mr. LaValle, “and he has the support of the conference.” The case against Mr. Skelos and his son grew out of a broader inquiry into political corruption by the United States attorney for the Southern District of New York, Preet Bharara, that has already changed the face of the state capital. It is based in part, according to the six-count complaint, on conversations secretly recorded by one of two cooperating witnesses, and wiretaps on the cellphones of the senator and his son. Those recordings revealed that both men were concerned about electronic surveillance, and illustrated the son’s unsuccessful efforts to thwart it.

Advertisement

Adam Skelos took to using a “burner” phone, the complaint says, and told his father he wanted them to speak through a FaceTime video call in an apparent effort to avoid detection. They also used coded language at times.

At one point, Adam Skelos was recorded telling a Senate staff member of his frustration in not being able to speak openly to his father on the phone, noting that he could not “just send smoke signals or a little pigeon” carrying a message.

The 43-page complaint, sworn out by Paul M. Takla, a special agent for the Federal Bureau of Investigation, outlines a five-year scheme to “monetize” the senator’s official position; it also lays bare the extent to which a father sought to use his position to help his son.

The charges accuse the two men of extorting payments through a real estate developer, Glenwood Management, based on Long Island, and the environmental company, AbTech Industries, in Scottsdale, Ariz., with the expectation that the money paid to Adam Skelos — nearly $220,000 in total — would influence his father’s actions.

Glenwood, one of the state’s most prolific campaign donors, had ties to AbTech through investments in the environmental firm’s parent company by Glenwood’s founding family and a senior executive.

The accusations in the complaint portray Senator Skelos as a man who, when it came to his son, was not shy about twisting arms, even in situations that might give other arm-twisters pause.

Seeking to help his son, Senator Skelos turned to the executive at Glenwood, which develops rental apartments in New York City and has much at stake when it comes to real estate legislation in Albany. The senator urged him to direct business to his son, who sold title insurance.

After much prodding, the executive, Charles C. Dorego, engineered a $20,000 payment to Adam Skelos from a title insurance company even though he did no work for the money. But far more lucrative was a consultant position that Mr. Dorego arranged for Adam Skelos at AbTech, which seeks government contracts to treat storm water. (Mr. Dorego is not identified by name in the complaint, but referred to only as CW-1, for Cooperating Witness 1.)

Senator Skelos appeared to take an active interest in his son’s new line of work. Adam Skelos sent him several drafts of his consulting agreement with AbTech, the complaint says, as well as the final deal that was struck.

“Mazel tov,” his father replied.

Senator Skelos sent relevant news articles to his son, including one about a sewage leak near Albany. When AbTech wanted to seek government contracts after Hurricane Sandy, the senator got on a conference call with his son and an AbTech executive, Bjornulf White, and offered advice. (Like Mr. Dorego, Mr. White is not named in the complaint, but referred to as CW-2.)

The assistance paid off: With the senator’s help, AbTech secured a contract worth up to $12 million from Nassau County, a big break for a struggling small business.

But the money was slow to materialize. The senator expressed impatience with county officials.

Adam Skelos, in a phone call with Mr. White in late December, suggested that his father would seek to punish the county. “I tell you this, the state is not going to do a [expletive] thing for the county,” he said.

Three days later, Senator Skelos pressed his case with the Nassau County executive, Edward P. Mangano, a fellow Republican. “Somebody feels like they’re just getting jerked around the last two years,” the senator said, referring to his son in what the complaint described as “coded language.”

The next day, the senator pursued the matter, as he and Mr. Mangano attended a wake for a slain New York City police officer. Senator Skelos then reassured his son, who called him while he was still at the wake. “All claims that are in will be taken care of,” the senator said.

AbTech’s fortunes appeared to weigh on his son. At one point in January, Adam Skelos told his father that if the company did not succeed, he would “lose the ability to pay for things.”

Making matters worse, in recent months, Senator Skelos and his son appeared to grow wary about who was watching them. In addition to making calls on the burner phone, Adam Skelos said he used the FaceTime video calling “because that doesn’t show up on the phone bill,” as he told Mr. White.

In late February, Adam Skelos arranged a pair of meetings between Mr. White and state senators; AbTech needed to win state legislation that would allow its contract to move beyond its initial stages. But Senator Skelos deemed the plan too risky and caused one of the meetings to be canceled.

In another recorded call, Adam Skelos, promising to be “very, very vague” on the phone, urged his father to allow the meeting. The senator offered a warning. “Right now we are in dangerous times, Adam,” he told him.

A month later, in another phone call that was recorded by the authorities, Adam Skelos complained that his father could not give him “real advice” about AbTech while the two men were speaking over the telephone.

“You can’t talk normally,” he told his father, “because it’s like [expletive] Preet Bharara is listening to every [expletive] phone call. It’s just [expletive] frustrating.”

“It is,” his father agreed.

Fullmer, who reigned when fight clubs abounded and Friday night fights were a television staple, was known for his title bouts with Sugar Ray Robinson and Carmen Basilio.

Artikel lainnya »