Jual Genset Doosan di Bandung Barat Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Genset Doosan di Bandung Barat Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Genset Doosan di Bandung Barat

Jual Genset Doosan di Bandung Barat

Tag :
Jual Genset Lovol | Jual Genset Doosan di Bandung Barat | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual Genset Cummins 80Kva di Padangpanjang

Jual Genset Cummins 80Kva di Padangpanjang Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual Genset Cummins 80Kva di Padangpanjang

Saking seringnya menatap tubuh telanjang saat sedang mandi, kita mungkin sudah hafal dengan segala lekuk tubuh kita.

Saco- Indonesia.com - Saking seringnya menatap tubuh telanjang saat sedang mandi, kita mungkin sudah hafal dengan segala lekuk tubuh kita. Apalagi, kalau ada tambahan lemak di sana- sini. Namun, ada baiknya Anda tidak hanya mengamati bertambah atau berkurangnya timbunan lemak ketika sedang telanjang. Tanda-tanda lain yang Anda temukan pada tubuh ternyata bisa menyelamatkan nyawa Anda, lho.

Satu hal yang perlu dilakukan kaum perempuan ketika sedang telanjang adalah memeriksa payudaranya. Kenali ketika Anda menemukan benjolan di area tersebut, kulit yang mengerut, atau puting payudara yang berubah. Bisa jadi, itu merupakan tanda hadirnya tumor payudara. Selain itu, ada beberapa tanda lain yang perlu Anda perhatikan:

Bintil pada lipatan kulit
Saat ini makin banyak masalah resistensi insulin, yang terjadi ketika tubuh berhenti mendengarkan sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh hormon yang menurunkan kadar gula darah tersebut. Hal ini bisa menimbulkan penambahan berat badan dan meningkatnya risiko diabetes.

Dalam bukunya, The Skinny, Dr Louis Aronne mengatakan bahwa salah satu gejala resistensi insulin adalah adanya bintil atau benjolan kulit pada leher, ketiak, atau di payudara dan area selangkangan. Kulit di sekitar leher, lipatan jari (ketika menggenggam), dan siku juga terlihat gelap.

Jika gejala ini terlihat, dan Anda memang kesulitan menurunkan berat badan, ubahlah pola makan Anda dengan menu yang indeks glikemiknya rendah (yang kadar tepung pati dan gulanya rendah), dan kaya protein.

Hitung tahi lalat Anda
"Orang yang punya lebih dari 100 tahi lalat memiliki risiko melanoma 700 persen lebih tinggi daripada yang normal," ungkap Dr David Duffy dari Queensland Institute of Medical Research. Melanoma adalah jenis kanker kulit yang paling serius, terjadi pada sel yang menghasilkan melanin –pigmen yang memberikan warna pada kulit.

Jika Anda memiliki banyak tahi lalat, sebaiknya lakukan pemeriksaan kulit secara teratur pada dokter kulit. Selain itu, tetap perhatikan saat Anda sedang mandi atau berganti pakaian, kalau-kalau terjadi perubahan pada jumlah atau ukuran tahi lalat Anda. Memang akan sulit membedakan jika ada begitu banyak tahi lalat. Karena itu ahli dermatologi Dr Jonathan Bowling menyarankan untuk memeriksa yang paling besar, lalu membandingkannya dengan yang lain.

Amati tumbuhnya rambut kemaluan
Siapa menyangka bentuk rambut kemaluan saja bisa menimbulkan masalah? Normalnya, rambut kemaluan akan tumbuh membentuk segitiga, dengan bagian yang runcing ke arah kemaluan. Jika rambut kemaluan Anda bentuknya persegi, dan arah tumbuhnya ke atas menuju pusar, lalu menurun pada paha, hal itu bisa menjadi tanda problem sindroma ovarium polikistik. Ini suatu kelainan hormonal dengan beberapa gejala khas yang ditandai adanya sejumlah kista pada indung telur (ovarium).

"Rambut pada tubuh juga bisa tumbuh di sekitar dada, punggung, wajah, dan dagu," jelas Profesor Helena Teededari The Jean Hailes Foundation.

Penebalan kulit di area vagina
Kesehatan di area vagina sangat penting. Karena itu amati kondisinya secara teratur untuk memeriksa adanya gejala-gejala kanker vulva, yang terjadi di bagian luar permukaan vagina.Dr Elizabeth Farrell dari The Jean Hailes Foundation menyarankan Anda untuk menggunakan cermin untuk mengamatinya sendiri. Lihat apakah ada bercak-bercak putih atau sangat gelap, penebalan kulit, kutil, benjolan, nanah, melepuh, atau pedih di area tersebut.

Gumpalan putih pada lipatan siku, jari, atau lutut
Gumpalan putih atau kekuningan pada kelopak mata yang disebut xanthomata, bisa merupakan tanda kolesterol tinggi. Namun Profesor James Tatoulis, kepala penasihat medis untuk Heart Foundation, mengatakan bahwa gumpalan lemak seperti ini juga bisa tampak pada bagian tubuh lain.

"Xanthomata bisa tumbuh di punggung, bokong, dan paha, dengan ukuran diameter beberapa milimeter. Bagian tengahnya kuning, dan sekitarnya pink muda," katanya.

Xanthomata juga bisa tumbuh lebih besar, 5 - 15 milimeter, dan terbentuk pada tendon yang ditemukan di dekat permukaan luar siku, lipatan jari, atau lutut depan. Inilah tandanya kolesterol Anda sangat tinggi.

Sumber: Good Health/Kompas.com
Editor :Liwon Maulana(galipat)

Kali ini admin akan membagikan artikel mengenai Contoh Karya Ilmiah/Makalah tentang Efek Rumah Kaca. Semoga artikel ini, da

Kali ini admin akan membagikan artikel mengenai Contoh Karya Ilmiah/Makalah tentang Efek Rumah Kaca. Semoga artikel ini, dapat di gunakan dengan sebaik-baiknya. Dan semoga artikel ini dapat membantu mengerjakan Tugas Sekolah atau Kuliah teman-teman semuanya.
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
 
 
A.    Latar Belakang
       Sejak jaman purbakala sampai sekarang,manusia mengalami perubahan yang sangat pesat seiring berjalannya waktu,ilmu pengetahuan juga ikut berkembang.Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang sangat sempurna mempunyai tugas untuk menjaga dan tetap melestarikan alam agar tidak punah.
        Keadaan permukaan bumi saat ini mengalami peningkatan suhu yang tidak seperti biasanya yang terjadi selama 100 tahun terakhir ini,salah satu penyebabnya adalah rumah kaca yang biasanya di gunakan untuk mengembangkan bunga,buah dan lain sebagainya,rumah kaca ini melindungi tanaman dari panas dan dingin secara berlebih sehingga banyak industri - industri menggunakan metode ini untuk meningkatkan penghasilannya.Tanpa mereka pikirkan seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari perbuatannya itu.
       Pemanasan global atau lebih sering disebut Global Warming tengah jadi buah bibir masyarakat saat ini khususnya di Indonesia dikarenakan di Indonesia juga mengalami perubahan iklim yang tidak menentu akibat dari pemanasan global tersebut.Banyak  dampak yang akan ditimbulkan oleh terjadinya pemanasan global.
 
       Oleh karena itu dalam karya ilmiah ini akan dibahas lebih lanjut tentang adakah efek yang di berikan oleh rumah kaca terhadap pemanasan global ? Apakah dampak yang ditimbulkan dari terjadinya pemanasan global ? Hasil- hasil penelitian yang dilakukan para ilmuwan tentang efek rumah kaca terhadap pemanasan global? Dan upaya apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengurangi terjadinya pemanasan global ini.Dengan mencari Informasi dan data-data yang dapat dipercaya melalui media seperti buku dan inernet.
                                                                                        
B.Rumusan Masalah
 
        Adapun rumasan masalah dalam penelitian ini yaitu :
1.      Adakah efek dari rumah kaca terhadap pemanasan global ?
2.      Apa penyebab rumah kaca dapat mengakibatkan pemanasan global?
3.      Upaya apa yang dapat di lakukan untuk mengurangi terjadinya pemanasan global di Bumi ?
 
C. Tujuan Penelitian
       Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu mencakup :
1.        Untuk mengetahui apakah ada efek dari rumah kaca terhadap pemanasan global.
2.        Untuk mengetahui penyebab dari efek rumah kaca sehingga mengakibatkan pamanasan global.
3.        Untuk mengetahui upaya apa yang dapat di lakukan untuk mengurangi terjadinya pemasan global di Bumi.
 
D. Manfaat Penelitian
 
1.        Bagi penulis,penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai semua yang berhubungan dengan efek rumah kaca terhadap pemanasan global.
2.        Bagi Pembaca,penelitian ini dapat memberikan pengetahuan mengenai efek rumah kaca terhadap pemananasan global.
3.         Bagi Para Ilmuwan yang meneliti,Penelitian ini dapat memberikan tambahan data-data atau pernyataan-pernyataan mengenai efek rumah kaca terhadap pemanasan global.
 
 
BAB II
LANDASAN TEORI
 
A. Pengertian-pengertian
     1. Efek Rumah Kaca
       Efek rumah kaca adalah proses penghangatan bumi karena adanya penyerapan sinar infra merah.Tanpa adanya efek ini suhu bumi akan turun sekitar 30° C.Sinar yang datang ke bumi sebanya 30 % dipantulkan dan sisanya digunakan untuk menghangatkan daratan,lautan dan atmosfer.efek rumah kaca terjadi karena bumi relatif transparan terhadap sinar tampak,namun sangat menyerap sinar infra merah sehingga bumi akan menghangat karena adanya penyerapan energi tersebut. Efek rumah kaca juga merupakan efek alamiah untuk menjaga temperature  permukaan Bumi pada suhu normal sekitar 30°C,atau kalau tidak ada ,maka tentu saja tidak akan ada kehidupan dimuka Bumi ini.
        
2.Pemanasan Global
        Pemanasan global yaitu bertambah panasnya atmosfer Bumi serta samudra selama beberapa dekade terakhir.Menurut penelitian suhu bumidi ketahui meningkat 0,6 kurang lebih 0,2 °C selama 20 Abad terakhir.
(Nur Farida 2009 :53) Mengatakan, bahwa pemanasan global yaitu disebut juga global warming ,istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan fenomena peningkatan suhu rata – rata atmosfer Bumi.Peningkatan suhu Bumi ini dianggap akan secara permanen mengubah iklim Bumi selamanya.
 
B. Dampak dari terjadinya Pemanasan Global
 
 
Editor by : OSHIMURA

- See more at: http://pbsstainmetro.blogspot.com/2014/02/contoh-karya-ilmiah-tentang-bahaya-efek.html#sthash.8nHxf7N3.dpuf

GREENWICH, Conn. — Mago is in the bedroom. You can go in.

The big man lies on a hospital bed with his bare feet scraping its bottom rail. His head is propped on a scarlet pillow, the left temple dented, the right side paralyzed. His dark hair is kept just long enough to conceal the scars.

The occasional sounds he makes are understood only by his wife, but he still has that punctuating left hand. In slow motion, the fingers curl and close. A thumbs-up greeting.

Hello, Mago.

This is Magomed Abdusalamov, 34, also known as the Russian Tyson, also known as Mago. He is a former heavyweight boxer who scored four knockouts and 14 technical knockouts in his first 18 professional fights. He preferred to stand between rounds. Sitting conveyed weakness.

But Mago lost his 19th fight, his big chance, at the packed Theater at Madison Square Garden in November 2013. His 19th decision, and his last.

Now here he is, in a small bedroom in a working-class neighborhood in Greenwich, in a modest house his family rents cheap from a devoted friend. The air-pressure machine for his mattress hums like an expectant crowd.

 

Photo
 
Mike Perez, left, and Magomed Abdusalamov during the fight in which Abdusalamov was injured. Credit Joe Camporeale/USA Today Sports, via Reuters

 

Today is like any other day, except for those days when he is hurried in crisis to the hospital. Every three hours during the night, his slight wife, Bakanay, 28, has risen to turn his 6-foot-3 body — 210 pounds of dead weight. It has to be done. Infections of the gaping bedsore above his tailbone have nearly killed him.

Then, with the help of a young caretaker, Baka has gotten two of their daughters off to elementary school and settled down the toddler. Yes, Mago and Baka are blessed with all girls, but they had also hoped for a son someday.

They feed Mago as they clean him; it’s easier that way. For breakfast, which comes with a side of crushed antiseizure pills, he likes oatmeal with a squirt of Hershey’s chocolate syrup. But even oatmeal must be puréed and fed to him by spoon.

He opens his mouth to indicate more, the way a baby does. But his paralysis has made everything a choking hazard. His water needs a stirring of powdered food thickener, and still he chokes — eh-eh-eh — as he tries to cough up what will not go down.

Advertisement

Mago used to drink only water. No alcohol. Not even soda. A sip of juice would be as far as he dared. Now even water betrays him.

With the caretaker’s help, Baka uses a washcloth and soap to clean his body and shampoo his hair. How handsome still, she has thought. Sometimes, in the night, she leaves the bedroom to watch old videos, just to hear again his voice in the fullness of life. She cries, wipes her eyes and returns, feigning happiness. Mago must never see her sad.

 

Photo
 
 Abdusalamov's hand being massaged. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

When Baka finishes, Mago is cleanshaven and fresh down to his trimmed and filed toenails. “I want him to look good,” she says.

Theirs was an arranged Muslim marriage in Makhachkala, in the Russian republic of Dagestan. He was 23, she was 18 and their future hinged on boxing. Sometimes they would shadowbox in love, her David to his Goliath. You are so strong, he would tell her.

His father once told him he could either be a bandit or an athlete, but if he chose banditry, “I will kill you.” This paternal advice, Mago later told The Ventura County Reporter, “made it a very easy decision for me.”

Mago won against mediocre competition, in Moscow and Hollywood, Fla., in Las Vegas and Johnstown, Pa. He was knocked down only once, and even then, it surprised more than hurt. He scored a technical knockout in the next round.

It all led up to this: the undercard at the Garden, Mike Perez vs. Magomed Abdusalamov, 10 rounds, on HBO. A win, he believed, would improve his chances of taking on the heavyweight champion Wladimir Klitschko, who sat in the crowd of 4,600 with his fiancée, the actress Hayden Panettiere, watching.

Wearing black-and-red trunks and a green mouth guard, Mago went to work. But in the first round, a hard forearm to his left cheek rocked him. At the bell, he returned to his corner, and this time, he sat down. “I think it’s broken,” he repeatedly said in Russian.

 

Photo
 
Bakanay Abdusalamova, Abdusalamov's wife, and her injured husband and a masseur in the background. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

Maybe at that point, somebody — the referee, the ringside doctors, his handlers — should have stopped the fight, under a guiding principle: better one punch too early than one punch too late. But the bloody trade of blows continued into the seventh, eighth, ninth, a hand and orbital bone broken, his face transforming.

Meanwhile, in the family’s apartment in Miami, Baka forced herself to watch the broadcast. She could see it in his swollen eyes. Something was off.

After the final round, Perez raised his tattooed arms in victory, and Mago wandered off in a fog. He had taken 312 punches in about 40 minutes, for a purse of $40,000.

 

 

In the locker room, doctors sutured a cut above Mago’s left eye and tested his cognitive abilities. He did not do well. The ambulance that waits in expectation at every fight was not summoned by boxing officials.

Blood was pooling in Mago’s cranial cavity as he left the Garden. He vomited on the pavement while his handlers flagged a taxi to St. Luke’s-Roosevelt Hospital. There, doctors induced a coma and removed part of his skull to drain fluids and ease the swelling.

Then came the stroke.

 

Photo
 
A championship belt belonging to Abdusalamov and a card from one of his daughters. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

It is lunchtime now, and the aroma of puréed beef and potatoes lingers. So do the questions.

How will Mago and Baka pay the $2 million in medical bills they owe? What if their friend can no longer offer them this home? Will they win their lawsuits against the five ringside doctors, the referee, and a New York State boxing inspector? What about Mago’s future care?

Most of all: Is this it?

A napkin rests on Mago’s chest. As another spoonful of mush approaches, he opens his mouth, half-swallows, chokes, and coughs until it clears. Eh-eh-eh. Sometimes he turns bluish, but Baka never shows fear. Always happy for Mago.

Some days he is wheeled out for physical therapy or speech therapy. Today, two massage therapists come to knead his half-limp body like a pair of skilled corner men.

Soon, Mago will doze. Then his three daughters, ages 2, 6 and 9, will descend upon him to talk of their day. Not long ago, the oldest lugged his championship belt to school for a proud show-and-tell moment. Her classmates were amazed at the weight of it.

Then, tonight, there will be more puréed food and pulverized medication, more coughing, and more tender care from his wife, before sleep comes.

Goodbye, Mago.

He half-smiles, raises his one good hand, and forms a fist.

Artikel lainnya »