Genset Perkins Murah di Magetan Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Genset Perkins Murah di Magetan Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Genset Perkins Murah di Magetan

Genset Perkins Murah di Magetan

Tag :
Jual Genset Lovol | Genset Perkins Murah di Magetan | Jual Genset Lovol kav 45 kva | jual genset lovol Kap 70 Kva Prime Power type 1004TG | Genset Lovol | Genset Lovol kav 45 kva | Jual Genset cummins |

Jual GENSET CUMMIS 1500KVA di Tulungagung

Jual GENSET CUMMIS 1500KVA di Tulungagung Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR). Jual GENSET CUMMIS 1500KVA di Tulungagung

saco-indonesia.com, Saya ingin mengawali renungan kita kali ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin banyak tercecer di depan mata kita.

saco-indonesia.com, Saya ingin mengawali renungan kita kali ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin banyak tercecer di depan mata kita. Cerita ini tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja. Suatu sore, ia mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya dua buah namun telah menguning dan siap dipanen. Ia berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang.

 

Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya merasa heran. “masak hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang istri.

“bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya..”

“dari itu Bune” lanjut sang kakek, “saya akan pinjam tangga dan saya taruh di bawah pohon pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini dan tidak akan kesulitan lagi mengambil yang satunya”.
Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Ia mencoba bersabar, dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di tempatnya.

Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng duah buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Singkat cerita, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepayanya.

“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk itu, saya kembalikan pepaya Anda dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk Anda”.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas, adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan.

Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”?

Sumber:Pengjian LDII(Liwon Maulana "galipat")

 

Biarkanlah kutentukan jalanku Biarkanlah kutentukan sikapku Kini kuingin menikmati duniaku Mungkinkah kau mengerti akan aku

Biarkanlah kutentukan jalanku
Biarkanlah kutentukan sikapku
Kini kuingin menikmati duniaku
Mungkinkah kau mengerti akan aku

Lebih baik tinggalkan ku sendiri
Bosan diriku meredam emosi
Jalan hidup yang engkau tawarkan
Kurasakan itu bukan jalanku

Biarkanlah kubegini ini hidupku
Biarkanlah kubegini ini mauku
Biarkanlah kubegini ini jalanku

Kau datang lagi mencoba untuk merubah
Jalan hidupku yang tengah kutempuh
Lupakan saja kutak mungkin mengalah
Simpanlah semua mimpi padamu

Takkan menyerah aku arungi hidup ini
Walau kau datang sejuta prahara
Kuyakin hidup kan berganti cerita
Lupakan kisah cinta kita Oh

Biarkanlah kutentukan jalanku
Biarkanlah kutentukan sikapku
Kini kuingin menikmati duniaku
Mungkinkah kau mengerti akan aku

Lebih baik tinggalkan ku sendiri
Bosan diriku meredam emosi
Jalan hidup yang engkau tawarkan
Kurasakan itu bukan jalanku

Biarkanlah kubegini ini hidupku
Biarkanlah kubegini ini mauku
Biarkanlah kubegini ini jalanku

Kau datang lagi mencoba untuk merubah
Jalan hidupku yang tengah kutempuh
Lupakan saja kutak mungkin mengalah
Simpanlah semua mimpi padamu

Takkan menyerah aku arungi hidup ini
Walau kau datang sejuta prahara
Kuyakin hidup kan berganti cerita
Lupakan kisah cinta kita Oh

http://musiklib.org/Anang_Hermansyah-Biarkanlah-Lirik_Lagu.htm
Biarkanlah kutentukan jalanku
Biarkanlah kutentukan sikapku
Kini kuingin menikmati duniaku
Mungkinkah kau mengerti akan aku

Lebih baik tinggalkan ku sendiri
Bosan diriku meredam emosi
Jalan hidup yang engkau tawarkan
Kurasakan itu bukan jalanku

Biarkanlah kubegini ini hidupku
Biarkanlah kubegini ini mauku
Biarkanlah kubegini ini jalanku

Kau datang lagi mencoba untuk merubah
Jalan hidupku yang tengah kutempuh
Lupakan saja kutak mungkin mengalah
Simpanlah semua mimpi padamu

Takkan menyerah aku arungi hidup ini
Walau kau datang sejuta prahara
Kuyakin hidup kan berganti cerita
Lupakan kisah cinta kita Oh

http://musiklib.org/Anang_Hermansyah-Biarkanlah-Lirik_Lagu.htm
Biarkanlah kutentukan jalanku
Biarkanlah kutentukan sikapku
Kini kuingin menikmati duniaku
Mungkinkah kau mengerti akan aku

Lebih baik tinggalkan ku sendiri
Bosan diriku meredam emosi
Jalan hidup yang engkau tawarkan
Kurasakan itu bukan jalanku

Biarkanlah kubegini ini hidupku
Biarkanlah kubegini ini mauku
Biarkanlah kubegini ini jalanku

Kau datang lagi mencoba untuk merubah
Jalan hidupku yang tengah kutempuh
Lupakan saja kutak mungkin mengalah
Simpanlah semua mimpi padamu

Takkan menyerah aku arungi hidup ini
Walau kau datang sejuta prahara
Kuyakin hidup kan berganti cerita
Lupakan kisah cinta kita Oh

http://musiklib.org/Anang_Hermansyah-Biarkanlah-Lirik_Lagu.htm
Biarkanlah kutentukan jalanku
Biarkanlah kutentukan sikapku
Kini kuingin menikmati duniaku
Mungkinkah kau mengerti akan aku

Lebih baik tinggalkan ku sendiri
Bosan diriku meredam emosi
Jalan hidup yang engkau tawarkan
Kurasakan itu bukan jalanku

Biarkanlah kubegini ini hidupku
Biarkanlah kubegini ini mauku
Biarkanlah kubegini ini jalanku

Kau datang lagi mencoba untuk merubah
Jalan hidupku yang tengah kutempuh
Lupakan saja kutak mungkin mengalah
Simpanlah semua mimpi padamu

Takkan menyerah aku arungi hidup ini
Walau kau datang sejuta prahara
Kuyakin hidup kan berganti cerita
Lupakan kisah cinta kita Oh

http://musiklib.org/Anang_Hermansyah-Biarkanlah-Lirik_Lagu.htm
Biarkanlah kutentukan jalanku
Biarkanlah kutentukan sikapku
Kini kuingin menikmati duniaku
Mungkinkah kau mengerti akan aku

Lebih baik tinggalkan ku sendiri
Bosan diriku meredam emosi
Jalan hidup yang engkau tawarkan
Kurasakan itu bukan jalanku

Biarkanlah kubegini ini hidupku
Biarkanlah kubegini ini mauku
Biarkanlah kubegini ini jalanku

Kau datang lagi mencoba untuk merubah
Jalan hidupku yang tengah kutempuh
Lupakan saja kutak mungkin mengalah
Simpanlah semua mimpi padamu

Takkan menyerah aku arungi hidup ini
Walau kau datang sejuta prahara
Kuyakin hidup kan berganti cerita
Lupakan kisah cinta kita Oh

http://musiklib.org/Anang_Hermansyah-Biarkanlah-Lirik_Lagu.htm

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

“It was really nice to play with other women and not have this underlying tone of being at each other’s throats.”

Artikel lainnya »